Puluhan Tahun Menanti, Tito Soemarsono Kembali dengan “Ketika Ku Termenung” Bernuansa Jazzy
PagipagiNews.com|JAKARTA -|Bagi Tito Soemarsono, musik bukan sekadar perkara nada dan lagu. Ada perjalanan panjang di dalamnya termasuk sebuah keinginan yang pernah harus disimpan karena tuntutan industri rekaman.
Kini, keinginan itu kembali dibunyikan.
Tito Soemarsono meluncurkan lagu “Ketika Ku Termenung”, karya yang sekaligus menjadi ruang baginya untuk menghadirkan warna musik yang lebih dekat dengan selera musikal pribadinya. Lagu tersebut kini sudah dapat dinikmati melalui platform digital, termasuk YouTube dan Spotify.
Ada cerita panjang di balik pilihan warna musik itu.
Sejak awal perjalanan bermusik, Tito mengaku memiliki ketertarikan kuat pada jazz fusion dan funk. Namun, ketika memasuki industri rekaman pada masa awal kariernya, pilihan musik seorang penyanyi dan pencipta lagu tidak sepenuhnya berada di tangannya.
“Memang sudah lama aku ingin warna pop agak jazzy karena memang awalnya aku suka musik jazz fusion funky,” ujar Tito.
Keinginan tersebut harus berhadapan dengan selera pasar pada zamannya.
“Waktu bikin lagu rekaman pertama, label-label maunya pop manis,” katanya sembari tertawa.
Kalimat sederhana itu menggambarkan sebuah masa ketika industri musik memiliki formula tersendiri. Lagu pop dituntut mudah diterima, melodinya manis, dan aransemennya akrab di telinga pendengar.
Tito pun menjalani zamannya.
Nama Tito Soemarsono kemudian menjadi bagian dari perjalanan musik pop Indonesia pada era 1980-an hingga 1990-an. Sejumlah album seperti Kamu (1986), Pesta Indah (1987), Untukmu (1990), Semoga Kau Tau (1991), Tuhan Tolonglah (1992), dan Selalu (1994) ikut menandai perjalanan musikalnya.
Sejumlah lagu seperti “Mungkinkah”, “Laguku Milikmu”, “Siapa Kamu”, “Karenamu”, hingga “Mengapa Ada Lagi Bayangmu” juga menjadi bagian dari katalog musiknya.
Namun, di balik perjalanan panjang tersebut, kecintaan Tito terhadap jazz fusion dan funk tetap tumbuh.
Kini, melalui “Ketika Ku Termenung”, ia seperti memperoleh kesempatan untuk membuka kembali pintu yang dahulu belum sepenuhnya terbuka.
Warna pop tetap ada, tetapi sentuhan jazzy membuat karya tersebut terasa memiliki karakter yang berbeda. Bukan sekadar mengulang formula musik masa lalu, melainkan mempertemukan pengalaman seorang musisi senior dengan selera musikal yang sejak lama menjadi bagian dari dirinya.
Lagu ini tidak hanya berbicara mengenai karya baru seorang penyanyi yang pernah berjaya pada zamannya. Ia juga menjadi semacam catatan perjalanan tentang bagaimana seorang musisi bernegosiasi dengan zaman.
Dahulu, industri mungkin meminta “pop manis”.
Kini, ketika teknologi digital memberi ruang yang jauh lebih luas bagi musisi untuk menentukan arah karyanya, Tito dapat menghadirkan warna yang lebih personal.
Jarak waktu puluhan tahun justru membuat pertemuan itu terasa istimewa.
Tito tidak harus meninggalkan akar pop yang membesarkan namanya. Ia hanya menambahkan sesuatu yang sejak lama menjadi bagian dari dirinya: jazz, fusion, dan funk.
“Ketika Ku Termenung” akhirnya menjadi semacam pernyataan musikal Tito Soemarsono hari ini.
Bahwa selera musik seorang musisi bisa saja berubah mengikuti zaman, tetapi kecintaan pada warna tertentu tidak selalu hilang.