LaLaLa Fest 2026, Satu Dekade Menjaga Nyala Musik dari Hutan Cikole
PagipagiNews.co|JAKARTA— Satu dekade perjalanan LaLaLa Fest mencapai salah satu tonggak penting ketika festival musik lintas genre itu kembali digelar di JIExpo Kemayoran, Jakarta, 22–23 Agustus 2026.
Berawal dari gagasan sederhana di tengah hutan Cikole, Bandung, pada 2016, LaLaLa kini tumbuh menjadi salah satu festival musik yang diperhitungkan di kawasan. Perpindahan ke Jakarta sejak 2024 memperluas jangkauan festival tanpa menghilangkan karakter yang sejak awal menjadi identitasnya: musik, eksplorasi, seni, dan pengalaman yang imersif.
Pada edisi kesepuluh ini, LaLaLa Fest menghadirkan lebih dari 40 penampil yang tersebar di empat panggung, yakni LaLaLa Stage, Karma Stage, Bloom Stage, dan Talking Stage.
Nama-nama internasional seperti Steve Lacy, Rex Orange County, The Flaming Lips, HONNE, hingga Two Door Cinema Club menjadi magnet utama yang membawa ribuan penonton ke kawasan Kemayoran.
Dari Kabut Cikole ke Riuh Kemayoran
LaLaLa Fest memiliki sejarah yang tidak biasa. Festival ini lahir di tengah pepohonan Cikole, Bandung, dengan konsep yang memadukan pertunjukan musik dan kedekatan dengan alam.
Penonton ketika itu tidak sekadar datang untuk menyaksikan musisi di atas panggung. Instalasi seni, lanskap hutan, dan atmosfer yang intim menjadi bagian dari pengalaman.
Dalam perjalanannya, konsep tersebut berkembang. Jakarta dipilih sebagai rumah baru sejak 2024, membuka akses yang lebih luas bagi penonton dari berbagai daerah sekaligus memperkuat posisi LaLaLa sebagai festival dengan orientasi regional.
Langkah itu berlanjut pada 2026. Selain merayakan 10 tahun perjalanan, LaLaLa memperluas jejaknya ke Manila, Filipina, yang menjadi bagian dari ambisi membangun merek festival lintas negara.
Rex Orange County hingga Steve Lacy
Hari pertama, Sabtu (22/8/2026), diwarnai penampilan sejumlah nama besar.
Rex Orange County menjadi salah satu sorotan utama melalui penampilan Asia Exclusive di LaLaLa Stage. Sebelumnya, The Flaming Lips menghadirkan energi psikedelik yang menjadi ciri khas mereka, sedangkan Kodaline tampil dalam farewell show yang emosional bagi penggemarnya di Indonesia.
Astrid S dan Matt Maltese turut memperkaya warna musik hari pertama.
Di Karma Stage, Kodaline kembali menjadi salah satu pusat perhatian, didukung Jordan Rakei, Summer Salt, dan Wendy Wander. Sementara itu, panggung Bloom dan Talking memberi ruang bagi talenta emerging, antara lain Marcin, Treaks, dan Dinda Ghania, bersama sejumlah musisi dari kawasan Asia hingga Eropa.
Hari kedua, Minggu (23/8/2026), menghadirkan Steve Lacy sebagai salah satu penampil yang paling dinanti.
Musisi peraih Grammy tersebut menjadi headliner LaLaLa Stage. Sebelum Steve Lacy, HONNE membawa perayaan 10th Anniversary, disusul FLO dan BE:FIRST.
Karma Stage tak kalah menarik. Two Door Cinema Club tampil membawa set spesial untuk merayakan 15 tahun album Tourist History, dengan dukungan Dermot Kennedy, Lee Seung Yoon, dan Matthew Ifield.

Empat Panggung, Empat Karakter
Kekuatan LaLaLa Fest bukan hanya terletak pada nama besar yang hadir. Pembagian empat panggung memungkinkan festival menawarkan pengalaman musik dengan karakter yang berbeda.
LaLaLa Stage menjadi pusat pertunjukan para headliner. Karma Stage menghadirkan musik yang lebih emosional dan mid-tempo. Bloom Stage menjadi ruang bagi musisi emerging dan eksperimen musikal, sedangkan Talking Stage menawarkan atmosfer yang lebih dekat antara artis dan penonton.
Elemen seni dan visual juga tetap menjadi bagian penting festival. Warisan konsep yang dimulai dari hutan Cikole diterjemahkan ke dalam instalasi dan pengalaman visual di tengah ruang festival Jakarta.
Dengan demikian, LaLaLa tidak berhenti sebagai rangkaian konser. Festival ini mencoba menghadirkan ruang untuk menjelajah, menemukan musik baru, berinteraksi, dan membangun pengalaman bersama.
Bukan Sekadar Perayaan Ulang Tahun
Kehadiran LaLaLa Fest 2026 sekaligus memperlihatkan bagaimana festival musik Indonesia semakin terhubung dengan ekosistem musik Asia.
Kurasi yang mempertemukan musisi internasional dengan talenta emerging dari Indonesia dan negara-negara Asia membuka ruang pertukaran audiens sekaligus peluang bagi musisi baru untuk tampil di hadapan penonton yang lebih luas.
Ekspansi ke Manila juga menjadi penanda bahwa LaLaLa mulai bergerak dari sekadar festival lokal menuju merek festival regional dengan konsep lintas kota.
Di tengah dominasi layanan streaming dalam konsumsi musik, festival seperti LaLaLa menawarkan sesuatu yang tidak sepenuhnya dapat digantikan oleh layar: pengalaman hadir secara langsung, berbagi ruang dengan ribuan orang, dan menemukan musik melalui perjumpaan.
Sepuluh tahun setelah pertama kali digelar di tengah hutan Cikole, LaLaLa Fest 2026 akhirnya tiba pada fase baru.
Dari kabut pepohonan Bandung menuju panggung besar JIExpo Kemayoran, perjalanan itu menunjukkan bagaimana sebuah festival dapat tumbuh tanpa harus kehilangan akar.
LaLaLa Fest kini bukan sekadar tentang siapa yang tampil di atas panggung. Ia adalah tentang perjalanan musik, seni, komunitas, dan keberanian untuk terus bereksperimen.
Satu dekade berlalu, tetapi semangat itu masih sama: membawa penonton untuk menemukan sesuatu yang baru di balik setiap nada.