Kementerian Ekraf Dorong Toba Caldera Culture Festival Perkuat Ekosistem Musik dan Budaya
PagipagiNews.com|JAKARTA— Kolaborasi pemerintah pusat dan daerah dinilai menjadi kunci untuk memperkuat ekosistem ekonomi kreatif sekaligus membuka jalan bagi talenta lokal menuju pasar nasional dan global.
Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) Teuku Riefky Harsya menyampaikan hal itu saat menerima kunjungan penyelenggara Toba Caldera Culture Festival (TCCF) di Kantor Kementerian Ekraf, Jakarta, Kamis (20/8/2026).
Menurut Teuku Riefky, konsep TCCF memiliki potensi besar karena tidak hanya mengangkat kebudayaan lokal, tetapi juga mendorong karya kreatif dan produk unggulan daerah agar memiliki jangkauan lebih luas.
“Konsep acara yang ingin dihadirkan Toba Caldera Culture Festival begitu bagus karena bagaimana local hero bisa go national, kemudian karya kreatif dan produk unggulan bisa kita dorong ke tingkat global,” ujar Teuku Riefky.
Ia mengatakan, kolaborasi antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat perlu dibangun sebagai sebuah estafet, terutama dalam mendukung para pelaku ekonomi kreatif di berbagai subsektor, termasuk musik.
TCCF 2026 merupakan platform kolaboratif yang diinisiasi ND Management. Festival perdana ini menggabungkan unsur budaya, ekonomi kreatif, UMKM, inovasi, dan investasi untuk memperluas akses pasar sekaligus membuka peluang business matching.
Rangkaian TCCF dijadwalkan berlangsung di Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, pada 24-27 September 2026. Kegiatan tersebut antara lain berupa pesta rakyat atau marketplace, pertemuan pemangku adat Nusantara, serta kompetisi dan lokakarya paduan suara melalui Samosir International Choir Competition.
Kementerian Ekraf, kata Teuku Riefky, akan melihat sejumlah peluang untuk menghubungkan TCCF dengan program yang telah berjalan, khususnya yang berada di bawah Deputi Bidang Kreativitas Media melalui Direktorat Musik.
“Kementerian Ekraf akan melihat dulu aktivasi apa yang bisa dilakukan dalam Toba Caldera Culture Festival. Nanti, kita pastikan bentuk dukungan dalam bentuk penjurian atau kita bisa ikut turut mengaktivasi rangkaian acara lain,” katanya.
Ia menegaskan, dukungan pemerintah diharapkan memberikan manfaat langsung bagi ekosistem musik sekaligus membuka ruang lebih besar bagi talenta-talenta muda.
Berdasarkan data BPS 2025, jumlah penduduk Indonesia yang bekerja pada subsektor musik mencapai 220.714 orang. Dari jumlah tersebut, 41,62 persen merupakan generasi milenial, 33,61 persen generasi Z, dan 20,87 persen generasi X.
Sementara itu, perwakilan TCCF menjelaskan, festival tersebut awalnya berangkat dari kompetisi paduan suara. Dalam perkembangannya, kegiatan itu diperluas menjadi festival yang mengusung budaya, kreativitas, inovasi, hingga penguatan ekonomi masyarakat.
Ketua Steering Committee TCCF Mora Nasution mengatakan, Danau Toba sebagai salah satu destinasi super prioritas memiliki posisi penting di mata dunia. Namun, pengembangan kawasan tersebut menurut dia tidak cukup hanya dengan menjaga destinasi, tetapi juga perlu memberdayakan manusia, seni, dan budaya di dalamnya.
“Bukan hanya bagaimana melestarikan tempatnya saja, tetapi juga bicara manusia dengan seni dan budaya yang berdampak terhadap nilai ekonomi,” kata Mora.
TCCF 2026 menargetkan hampir 2.000 peserta paduan suara dan 70 penyanyi vokal solo. Selain kompetisi, festival juga akan mengangkat kekayaan budaya Indonesia sebagai sumber inspirasi bagi karya kreatif dan inovasi.
Sejumlah nilai dan identitas masyarakat Batak seperti Dalihan Na Tolu, Tondi, Gondang, dan Tortor akan menjadi bagian dari rangkaian kegiatan.
Melalui festival tersebut, penyelenggara berharap budaya Batak tidak hanya menjadi warisan yang dipertahankan, tetapi juga dapat berkembang menjadi sumber kreativitas, peluang ekonomi, dan ruang bagi talenta lokal untuk tampil di panggung yang lebih luas.