Jakarta Menjadi Ruang Belajar Bersama Transformasi Digital
☑️JAKI & Fellowship Cities Forum 2026 Dorong Inovasi Pelayanan Publik yang Merata
PagipagiNewd.com-|Jakarta tidak ingin transformasi digital berhenti sebagai cerita tentang kecanggihan teknologi. Di balik aplikasi, data, dan kecerdasan artifisial, ada satu tujuan yang lebih mendasar: membuat pelayanan publik semakin dekat, cepat, transparan, dan responsif terhadap kebutuhan warga.
Semangat itulah yang dibawa Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik bersama Unit Pengelola Jakarta Smart City dalam penyelenggaraan JAKI & Fellowship Cities Forum (JFCF) 2026.
Mengusung tema “Sharing Best Practices in Digital Transformation and Public Innovation”, forum internasional tersebut akan berlangsung secara hybrid pada 19–20 Agustus 2026. Sekitar 3.000 peserta dari kementerian, pemerintah daerah, akademisi, industri, dan masyarakat umum dijadwalkan terlibat dalam forum yang menghadirkan 16 sesi diskusi, terdiri atas tujuh sesi luring dan sembilan sesi daring.
Kepala Diskominfotik DKI Jakarta Marulina Dewi mengatakan, JFCF dirancang sebagai ruang kolaborasi antarpemerintah untuk saling berbagi pengalaman dalam mengembangkan transformasi digital dan inovasi pelayanan publik.
Forum itu rencananya dibuka Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dan melibatkan kepala daerah se-Jabodetabek secara virtual.
Bagi Jakarta, pengalaman membangun ekosistem kota cerdas tidak semestinya menjadi pengetahuan yang hanya berputar di dalam batas wilayah ibu kota. Karena itu, Pemprov DKI menempatkan forum tersebut sebagai jembatan agar praktik baik transformasi digital dapat dipelajari dan dikembangkan oleh daerah lain.
“Jakarta ingin menjadi penghubung kolaborasi agar transformasi digital berkembang merata di seluruh Indonesia,” ujar Marulina.
Berbagi Bukan Sekadar Cerita
Yang menarik, kerja sama itu tidak berhenti pada forum dan diskusi. Pemprov DKI Jakarta juga berencana membagikan dua platform digital, City Data Platform dan Learning Management System, secara gratis kepada pemerintah daerah mitra.
Keduanya akan disertai pendampingan teknis sehingga pemerintah daerah tidak sekadar menerima teknologi, tetapi juga memperoleh dukungan untuk mengadaptasinya sesuai kebutuhan masing-masing.
Dengan demikian, digitalisasi ditempatkan bukan semata sebagai perlombaan memiliki aplikasi paling mutakhir. Lebih jauh, teknologi diposisikan sebagai alat untuk memperbaiki tata kelola dan menghadirkan pelayanan yang memiliki dampak nyata bagi masyarakat.
Di Jakarta sendiri, perjalanan itu terus berlangsung melalui JAKI. Hingga Agustus 2026, aplikasi tersebut telah diunduh lebih dari 7,06 juta kali dan menyediakan 101 fitur layanan publik.
Pengembangan juga menyentuh sistem pengaduan Cepat Respon Masyarakat (CRM). Teknologi AI Image Detector dan AI Recapture Detection diterapkan untuk membantu memverifikasi keaslian foto dalam laporan warga.
Langkah tersebut menunjukkan bagaimana kecerdasan artifisial mulai ditempatkan pada ruang yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari: memastikan laporan masyarakat dapat diverifikasi dan ditindaklanjuti secara lebih akurat.
Dari Jakarta untuk Kota-Kota Lain
Kepala Unit Pengelola Jakarta Smart City Ponirin Ariadi Limbong mengatakan, ketertarikan pemerintah daerah dan perguruan tinggi untuk mempelajari pengembangan kota cerdas di Jakarta terus meningkat.
Jika sebelumnya pembelajaran kerap dilakukan melalui kunjungan studi banding, JFCF mencoba memperluas ruang tersebut menjadi perjumpaan lintas kota dan lintas negara.
Pakar transformasi digital, praktisi teknologi, kepala daerah, hingga perwakilan lembaga internasional akan dipertemukan dalam satu forum. Pengalaman tidak lagi berjalan satu arah; Jakarta berbagi, tetapi pada saat yang sama juga belajar dari kota-kota lain.
Pada hari kedua, forum tersebut akan diperkuat dengan pertemuan ASEAN Smart Cities Network (ASCN) yang melibatkan sejumlah kota anggota di Indonesia, antara lain Makassar, Banyuwangi, Sumedang, Semarang, dan Denpasar.
Dari sana, pembicaraan diharapkan bergerak dari sekadar wacana menuju kerja sama yang lebih konkret mulai dari pemanfaatan kecerdasan artifisial, komunikasi digital, hingga pengembangan mobilitas perkotaan.
Pada akhirnya, kota cerdas bukan hanya perkara seberapa banyak sensor dipasang atau seberapa banyak aplikasi tersedia. Kota cerdas adalah kota yang mampu menggunakan teknologi untuk memahami warganya, merespons persoalan dengan cepat, serta membuka ruang kolaborasi yang lebih luas.
Melalui JFCF 2026, Jakarta tampaknya sedang mencoba memperluas makna itu: smart city bukan tentang siapa yang paling maju, melainkan bagaimana kemajuan dapat dibagikan agar semakin banyak kota mampu melangkah bersama.