Dari JIExpo ke Manila, LaLaLa Fest Bawa IP Indonesia Menembus Pasar Global
PagipagiNews.com|JAKARTA— LaLaLa Fest 2026 tak hanya menjadi perayaan musik lintas genre. Festival yang digelar di JIExpo Kemayoran, Jakarta, pada 22–23 Agustus 2026 itu mulai menunjukkan wajah baru industri kreatif Indonesia: bukan sekadar menjadi tuan rumah, tetapi mampu menciptakan dan mengekspor intellectual property (IP) ke pasar internasional.
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Irene Umar, menilai keberhasilan LaLaLa Fest memperlihatkan bahwa Indonesia memiliki kreativitas yang layak bersaing di tingkat global.
Saat menghadiri festival pada Minggu (23/8), Irene menegaskan bahwa pelaku kreatif Indonesia tidak perlu lagi merasa rendah diri ketika berhadapan dengan pasar internasional.
“Sudah bukan saatnya lagi kita merasa minder atau merasa kita kurang bagus, kurang keren. Indonesia punya kreativitas yang luar biasa, fantastis, dan sangat komersial,” ujar Irene.
Menurut dia, kekuatan kreativitas Indonesia sangat terbuka untuk dikembangkan menjadi produk dan pengalaman yang dapat dipasarkan ke berbagai negara. LaLaLa Fest menjadi salah satu contoh bagaimana sebuah konsep lokal dapat berkembang menjadi IP dengan nilai ekonomi lebih luas.
Irene juga mengapresiasi The Group sebagai promotor LaLaLa Fest yang mampu menghadirkan pengalaman hiburan dengan memadukan musisi Indonesia dan mancanegara. Festival tersebut sekaligus mempertemukan berbagai unsur dalam ekosistem ekonomi kreatif, mulai dari karya, pelaku industri, komunitas hingga pasar.
Pada penyelenggaraan tahun ini, LaLaLa Fest menghadirkan 32 musisi internasional dengan konsep yang mengedepankan identitas dan pengalaman kreatif.
CEO The Group sekaligus promotor LaLaLa Fest, Donny Heru, mengungkapkan bahwa IP LaLaLa Fest bahkan telah menarik perhatian pasar luar negeri.
Salah satu bentuk ekspansi tersebut adalah penggunaan lisensi LaLaLa Fest di Manila, Filipina. Dalam skema tersebut, pihak lokal menjalankan operasional dan pembiayaan, sementara konsep, desain, serta panduan penyelenggaraan berasal dari pemilik IP di Indonesia.
“Ini menunjukkan bahwa kreativitas dan konsep yang kita bangun di Indonesia bisa dibawa ke negara lain. Kita yang punya IP dan guideline-nya, sementara mereka menjalankan secara lokal,” kata Donny.
Model tersebut menunjukkan perubahan posisi Indonesia dalam rantai ekonomi kreatif global. Indonesia tidak hanya menjadi pasar bagi produk dan budaya kreatif dari luar negeri, tetapi mulai tampil sebagai pencipta sekaligus pemilik IP yang dapat dilisensikan ke negara lain.
Bagi Irene, langkah LaLaLa Fest tersebut berpotensi membawa festival musik Indonesia ke level yang lebih besar. Ia bahkan melihat LaLaLa Fest dapat berkembang menjadi semacam music expo bagi kawasan regional.
“LaLaLa Fest ini bisa jadi music expo untuk regional. Ini sudah menunjukkan bahwa kita bukan hanya membuat sebuah festival, tapi sudah bisa membawa dan menjual IP Indonesia ke internasional,” ungkapnya.
Ekspansi ke Manila menjadi contoh bahwa kekuatan ekonomi kreatif tidak hanya terletak pada penyelenggaraan sebuah acara, tetapi juga pada kemampuan membangun konsep, merek, pengalaman, dan IP yang memiliki nilai jual lintas negara.
Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif pun terus mendorong penguatan ekosistem ekonomi kreatif nasional melalui pengembangan karya, kreativitas, dan IP Indonesia agar memiliki nilai tambah serta mampu menjangkau pasar global.
LaLaLa Fest 2026 akhirnya meninggalkan pesan yang lebih besar dari sekadar kemeriahan panggung musik. Dari Jakarta, sebuah IP kreatif mulai melangkah ke luar negeri menunjukkan bahwa Indonesia punya peluang untuk tidak hanya membeli dan menikmati karya dunia, tetapi juga menciptakan, memiliki, dan mengekspor kreativitasnya sendiri.