Detania, Ketika Hip Hop Mengetuk Pintu Film Horor
PagipagiNews.com — Musik dan film horor mungkin berangkat dari dunia yang berbeda. Namun, keduanya memiliki satu persamaan: sama-sama pandai memainkan suasana. Musik bisa membuat jantung berdebar, sementara film horor mengajak penonton menebak-nebak apa yang akan muncul di balik gelap.
Ruang pertemuan itu pula yang membawa duo penyanyi Detania ke sebuah festival film horor. Bukan sekadar tampil sebagai bintang tamu, duo yang mengusung warna hip hop tersebut juga ikut membuka diskusi mengenai perkembangan film horor Indonesia.
Bagi Detania, kehadiran di tengah perbincangan perfilman menjadi pengalaman yang menarik. Apalagi, mereka melihat peluang kolaborasi antara musik dan film masih terbuka lebar.
Detania sendiri tergolong pendatang baru dalam perjalanan musik. Keduanya tengah menyiapkan sejumlah karya setelah merilis beberapa lagu. Harapannya sederhana, tetapi tidak kecil: musik mereka semakin dikenal dan menemukan pendengarnya.
Di balik nama Detania, ada dua pribadi dengan latar yang berbeda. Deta menyebut dirinya memiliki darah keturunan Timur, sementara Andri berasal dari Sukabumi. Perbedaan latar tersebut justru tidak menjadi jarak. Sebaliknya, ia menjadi warna yang memperkaya karakter musik mereka.
Bagi keduanya, musik juga tidak lahir dari ruang kosong. Pengalaman hidup menjadi salah satu sumber inspirasi. Kisah percintaan, misalnya, bisa berangkat dari pengalaman jatuh cinta hingga cerita ketika seseorang harus menerima kenyataan ditinggalkan.
Pengalaman-pengalaman semacam itu kemudian diolah menjadi lagu. Di tangan Detania, kisah personal tidak berhenti sebagai kenangan, tetapi dapat berubah menjadi bunyi, lirik, dan cerita yang mungkin saja menemukan pengalaman serupa dalam diri pendengarnya.
Kini, Detania mulai melirik ruang yang lebih luas. Industri film menjadi salah satu pintu yang ingin mereka jajaki. Soundtrack film horor bahkan menjadi kemungkinan yang cukup menggoda.
“Harapannya film horor Indonesia semakin maju dan mudah-mudahan lagu kami bisa dipakai sebagai soundtrack,” ujar salah satu personel Detania.
Keinginan itu bukan tanpa alasan. Bagi Detania, musik memiliki peran penting dalam membangun atmosfer sebuah film. Sebuah melodi dapat mempertebal ketegangan, sementara lirik tertentu bisa meninggalkan gema setelah layar berhenti menyala.
Di titik itulah Detania melihat kemungkinan kolaborasi antara musik dan film. Mereka tidak sekadar ingin menjadi pengisi suara, tetapi berharap suatu saat dapat menjadi bagian dari cerita yang dibangun sebuah film melalui soundtrack.
Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari perjalanan Detania untuk memperkenalkan karya mereka kepada khalayak yang lebih luas. Tidak hanya di Indonesia, duo ini menyimpan harapan agar musik mereka kelak dapat menyeberangi batas geografis dan diterima di tingkat internasional.
“Kami berharap bisa membuat musik yang diterima masyarakat Indonesia, terus berkembang dan mudah-mudahan bisa sampai ke tingkat internasional,” kata mereka.
Festival film horor itu, dengan demikian, boleh jadi bukan sekadar persinggahan bagi Detania. Dari ruang yang membicarakan film-film penuh ketegangan itu, mereka menemukan kemungkinan baru: musik sebagai jembatan menuju layar lebar.
Siapa tahu, suatu hari nanti, ketika lampu bioskop dipadamkan dan adegan pertama film horor mulai bergulir, suara Detania justru menjadi musik yang mengantar penonton memasuki dunia penuh misteri tersebut.