Abah Iwan Abdulrachman Berbagi Cerita Lewat “Musik Api Unggun”
PagipagiNews.com|JAKARTA — Lagu bagi Ir. Ridwan Armansyah atau yang lebih dikenal sebagai Iwan Abdulrachman bukan sekadar rangkaian nada dan lirik. Di balik setiap gubahan, tersimpan perjalanan, pengalaman, alam, persahabatan, dan kecintaan terhadap Indonesia.
Pada usia yang telah melewati tujuh dekade, Abah Iwan begitu ia akrab disapa masih memilih cara yang sederhana untuk berjumpa dengan pendengarnya: bernyanyi, berhenti sejenak, bercerita, kemudian kembali bernyanyi.
Format itulah yang dihadirkan dalam pertunjukan “Musik Api Unggun” dalam sebuah perjumpaan intim bersama Abah Iwan Abdulrachman di DSS Studio, Jakarta, Selasa (6/10/2026).
Bagi Abah Iwan, suasana seperti itu bukan sesuatu yang baru. Sejak lama, musiknya tumbuh dari perjalanan di alam terbuka. Di tengah pendakian gunung dan penjelajahan hutan, lagu-lagu dilantunkan mengitari api unggun. Musik kemudian menjadi ruang untuk berbagi cerita dan pengalaman.
Lahir di Sumedang, Jawa Barat, 3 September 1947, Abah Iwan dikenal sebagai musisi, komposer, penyanyi, pesilat, pelatih tentara, sekaligus salah satu pendiri Wanadri, Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung, yang didirikan di Bandung pada 16 Mei 1964.
Kecintaannya terhadap alam berjalan beriringan dengan perjalanan bermusiknya. Ia tercatat pernah bergabung dengan Nada Melody (1958-1961), Aneka Nada (1961-1963), dan Aneka Nada Junior (1964). Pada 1970, ia mendirikan Grup Pencinta Lagu (GPL).
Ratusan lagu telah lahir dari perjalanan panjangnya. Sebagian kemudian dikenal luas setelah dinyanyikan oleh sejumlah penyanyi dan grup musik, termasuk Bimbo dan Vina Panduwinata.
Dalam “Musik Api Unggun”, Abah Iwan kembali membawakan sejumlah gubahannya, antara lain “Sejuta Kabut”, “Tajam Tak Bertepi”, “Bulan Merah”, “Melati dari Jayagiri”, “Flamboyant”, “Burung Camar”, “Bunga Putih Bunga Ungu”, “Detik Hidup”, “Mentari”, serta “Bagimu Indonesiaku”.
Lagu-lagu tersebut hanyalah sebagian kecil dari perjalanan kreatif seorang Abah Iwan.
Menariknya, ia tidak sekadar menyanyikan lagu dari awal hingga akhir. Di sela-sela lagu, Abah Iwan mengajak penonton berbincang. Cerita tentang pengalaman, perjalanan, alam, hingga proses lahirnya sebuah lagu menjadi bagian dari pertunjukan.
Karakter tersebut menjadi kekuatan utama “Musik Api Unggun”.
Ketua panitia, Berlin TR Hasan, mengatakan gagasan pertunjukan berawal dari pertemuan sejumlah sahabat, termasuk Abah Iwan dan Dimas Wahab. Keduanya telah lama berkawan dan pernah bermain musik bersama di Bandung.
Dari pertemuan dan percakapan sederhana itulah muncul gagasan untuk kembali mempertemukan Abah Iwan dengan lagu-lagunya dalam suasana yang lebih intim.
“Selama ini, musik Abah Iwan memang lekat dengan suasana alam. Lagu-lagunya kerap dinyanyikan di gunung, di sekitar api unggun, dengan format yang sederhana: bernyanyi, bercerita, kemudian kembali bernyanyi,” ujar Berlin.
Menurut dia, pertunjukan tersebut bukan sekadar konser musik. Ada cerita mengenai pengalaman hidup dan proses lahirnya sebuah lagu.
Format yang selama ini berlangsung secara natural di alam kemudian dibawa ke Jakarta dengan dukungan tata suara dan akustik yang lebih terkontrol dari Donny Hardono dan DSS Sound.
Namun, menurut Berlin, perpindahan ruang tersebut tidak dimaksudkan untuk mengubah karakter musik Abah Iwan.
“Bukan berarti membawa musik Abah Iwan ke studio atau panggung kemudian mengubah karakter aslinya,” katanya.
Sutradara “Musik Api Unggun”, Aat Soeratin, melihat ada keunikan lain dari proses kreatif Abah Iwan.
Menurut Aat, ada melodi yang bahkan tersimpan selama puluhan tahun sebelum akhirnya menemukan syair dan menjadi sebuah lagu.
Abah Iwan pun, kata dia, tidak menyebut karya-karyanya sebagai “ciptaan”, melainkan “gubahan”.
Bagi Abah Iwan, nada dan lirik seolah sudah tersedia di mana-mana. Ia hanya menggubah dan menyusunnya melalui proses internalisasi pengalaman hidup.
Karena itu, hampir setiap lagu memiliki cerita yang dapat dibagikan kepada pendengar.
Aat menilai format tersebut memiliki kedekatan dengan tradisi seni tutur, termasuk tradisi pantun dalam budaya Sunda. Seseorang bernyanyi, berhenti untuk bercerita, lalu kembali bernyanyi.
“Musik Api Unggun” pun menjadi semacam ruang perjumpaan antara lagu, cerita, dan pengalaman hidup.
Musik, Alam, dan Indonesia
Dukungan terhadap pertunjukan tersebut juga datang dari promotor musik senior Harry Koko Santoso dan Ais Suhana.
Harry Koko melihat karya Abah Iwan sebagai bagian dari perjalanan panjang musik Indonesia. Lagu-lagunya tidak hanya dikenal di tingkat nasional, tetapi juga pernah dinyanyikan oleh grup besar seperti Bimbo.
Menurut Harry, musik Abah Iwan memiliki nilai yang jauh melampaui fungsi hiburan.
“Sejarah panjang musik Indonesia itu bukan hanya sekadar hiburan. Karena musik juga menginspirasi generasi ke generasi,” ujar Harry Koko.
Ia menilai sejumlah karya Abah Iwan juga menyuarakan kecintaan terhadap Indonesia, terutama melalui tema alam dan lingkungan.
“Kenapa alam dan Indonesia itu harus kita perhatikan? Karena sekarang kita lihat saja, hutan kita habis, tambang kita menyusut,” katanya.
Harry mencontohkan lagu “Melati dari Jayagiri” dan “Flamboyant” sebagai karya yang memperlihatkan kedekatan Abah Iwan dengan alam.
Sementara itu, Ais Suhana mengaku telah mengagumi Abah Iwan sejak masih kuliah.
Menurut Ais, Abah Iwan merupakan sosok yang konsisten menjaga kecintaan terhadap alam sekaligus terus berkarya melalui musik.
“Sampai saat ini saya menganggap Abah Iwan ini orang yang konsisten melestarikan hutan maupun berdendang dengan lagu-lagu karya kelompok yang Nusantara,” ujar Ais.
Bagi Ais, konsistensi tersebut menjadi alasan tersendiri untuk menghormati Abah Iwan.
Perjumpaan di DSS Studio malam itu akhirnya bukan hanya tentang menyanyikan kembali lagu-lagu lama.
Ia menjadi ruang untuk mengingat bahwa musik dapat menjadi cara sederhana untuk menyimpan perjalanan hidup, merawat ingatan, sekaligus menyampaikan kecintaan kepada alam dan Indonesia.
Berlin TR Hasan berharap format perjumpaan yang intim tersebut dapat terus digelar.
Ia ingin “Musik Api Unggun” bukan hanya menjadi sebuah pertunjukan, tetapi juga menghadirkan suasana sejuk dan ruang perjumpaan bagi masyarakat untuk kembali mendengarkan lagu, cerita, dan pengalaman dari seorang Abah Iwan Abdulrachman.[]