Dari Piringan Hitam ke Era Digital, Popularia Menelusuri Cerita di Balik Musik Indonesia
Intimate.co.id|JAKARTA — Musik bukan sekadar bunyi dan hiburan. Di balik sebuah lagu, terdapat perjalanan panjang tentang teknologi, perdagangan, selera masyarakat, hingga orang-orang yang ikut membentuk ekosistem musik populer Indonesia.
Jejak tersebut dihadirkan melalui pameran “Popularia: The Untold Story Behind Popular Music in Indonesia” di Galeri Budaya Tionghoa Indonesia (GBTI), Pantjoran PIK. Pameran ini menelusuri keterlibatan masyarakat Tionghoa Indonesia dalam perjalanan musik populer, mulai dari era piringan hitam hingga perkembangan industri musik di era digital.
Kurator GBTI, Mitha Budhyarto, mengatakan musik dapat menjadi pintu masuk untuk melihat bagaimana masyarakat Tionghoa Indonesia hadir dan berkontribusi dalam kehidupan budaya Indonesia.
“Melalui rekaman, perdagangan, perkembangan teknologi, hingga berbagai bentuk keterlibatan dalam industri musik, kita dapat melihat bagaimana sebuah masyarakat turut menjadi bagian dari perjalanan musik populer Indonesia,” kata Mitha.
Dari Tio Tek Hong hingga Industri Musik
Perjalanan itu salah satunya dapat ditelusuri sejak dekade awal abad ke-20, ketika teknologi rekaman mulai mengubah lanskap hiburan di Hindia Belanda.
Salah satu tokoh yang muncul adalah Tio Tek Hong. Melalui tokonya di Batavia, ia memproduksi dan mengedarkan rekaman komersial musisi lokal dalam bentuk piringan hitam berbahan shellac.
Musik Melayu, keroncong, hingga stambul menjadi bagian dari karya yang direkam dan diedarkan kepada masyarakat.
Perkembangan industri rekaman juga melibatkan para saudagar di berbagai kota. Nama seperti Tan Tik Hing di Semarang dan Lie Liang Swie di Surabaya turut menjadi bagian dari perjalanan ketika musik mulai bergerak dari pertunjukan langsung menjadi karya yang bisa direkam, diarsipkan, didistribusikan, dan dinikmati oleh khalayak yang lebih luas.
Jejak tersebut kemudian bergerak dari Pasar Baru pada awal abad ke-20 hingga kawasan Glodok pada dekade 1970-an.
Popularia menghadirkan sejumlah nama yang turut mewarnai perjalanan tersebut, antara lain Yo Kim Tjan, Tio Tek Djin, Miss Riboet Orion, Canary, Harry Lim, Amin “Cengli” Wijaya dari Musica Studios, Eugene Timothy dari Remaco, Johanes Soerjoko dari Aquarius, Log Zhelebour, hingga Adi Nugroho dari Dian/Prosound.
Membaca Sejarah Lewat Cara Mendengarkan
Sejarah musik tidak hanya berbicara tentang siapa yang merekam sebuah lagu. Cara musik diproduksi, didistribusikan, ditemukan, hingga didengarkan juga menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut.
Popularia menghadirkan berbagai bentuk musik dan pengalaman mendengarkan, mulai dari Gambang Kromong, Pop Mandarin, karya Teresa Teng, hingga live karaoke.
Melalui Listening Booth, pengunjung dapat mendengarkan lagu dari berbagai masa sekaligus melihat keterkaitan antara musik, perkembangan teknologi rekaman, distribusi, serta perubahan selera masyarakat.
Kolaborasi dengan Irama Nusantara turut memperkaya pameran melalui arsip dan dokumentasi musik populer Indonesia. Koleksi tersebut mengajak pengunjung melihat kembali perjalanan musik dari berbagai zaman.
Periset Irama Nusantara, Ignatius Aditya Adhiyatmaka, mengatakan arsip musik penting untuk memahami sejarah musik populer secara lebih utuh.
“Sejarah musik populer tidak hanya tentang lagu dan musisi, tetapi juga tentang bagaimana musik diproduksi, didistribusikan, dan didengarkan pada masanya,” ujarnya.
Menurut dia, perubahan teknologi, pola distribusi, dan selera masyarakat turut membentuk perjalanan musik Indonesia. Popularia menjadi ruang untuk menghadirkan kembali arsip tersebut sekaligus membaca cerita yang lebih luas di balik musik yang didengarkan masyarakat.
Dari Piringan Hitam ke Era Digital
Perubahan teknologi kemudian membawa musik ke dalam ekosistem yang semakin cair.
Jika pada masa lalu toko, label rekaman, dan jaringan distribusi menjadi bagian penting dalam perjalanan sebuah lagu menuju pendengar, kini ekosistem tersebut berkembang melalui platform digital, komunitas, serta berbagai jaringan kreatif.
Perubahan itu sekaligus membuka ruang bagi semakin banyak pelaku musik, mulai dari musisi dan produser hingga kolektor, kritikus, serta pelaku kreatif di skena independen.
Popularia melihat bagaimana keterlibatan masyarakat Tionghoa Indonesia dalam musik populer terus berkembang, termasuk melalui perspektif pelaku musik keturunan Tionghoa di Indonesia masa kini.
Pameran ini juga dilengkapi sejumlah program publik, seperti talkshow, listening session, tur kuratorial, hingga music takeover. Berbagai program tersebut dirancang agar pengunjung tidak hanya melihat arsip, tetapi juga mendengarkan dan memahami cerita musik secara lebih dekat dan partisipatif.
Pada akhirnya, sejarah musik populer dapat dibaca dari banyak jejak: orang-orang yang merekamnya, ruang tempat musik berkembang, teknologi yang membuatnya dapat didengar, serta masyarakat yang menjadikannya bagian dari kehidupan sehari-hari.
“Popularia: The Untold Story Behind Popular Music in Indonesia” dapat dikunjungi mulai 19 September 2026 hingga 21 Februari 2027 di Galeri Budaya Tionghoa Indonesia, Pantjoran PIK.[]