Wamenekraf Dorong Talenta Perempuan Perkuat Ekosistem Ekonomi Kreatif
PagipagiNews.com|JAKARTA— Perempuan bukan sekadar bagian dari ekosistem ekonomi kreatif. Di banyak subsektor, mereka justru menjadi penggerak utama. Karena itu, ruang yang aman, inklusif, dan memungkinkan perempuan berkembang dinilai penting untuk memperkuat ekonomi kreatif Indonesia.
Hal tersebut disampaikan Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Wamenekraf), Irene Umar, saat menghadiri Sisterhood Festival 2026 di Melting Pop, M Bloc Space, Jakarta, Sabtu (5/9/2026).
Irene mengatakan, sekitar 58 persen sektor ekonomi kreatif didominasi perempuan, terutama pada subsektor fesyen, kriya, dan kuliner.
Namun, menurut dia, kontribusi perempuan juga semakin terlihat pada subsektor yang sebelumnya kerap dipandang sebagai ranah laki-laki, termasuk gim. Bahkan, mulai bermunculan perempuan yang mampu mencapai prestasi tingkat dunia.
“Tugas pemerintah adalah membuka kesempatan itu. Peran kita semua adalah saling menguatkan dan memberdayakan kaum hawa agar mereka berani step into the light dan menunjukkan kemampuan mereka kepada dunia,” ujar Irene.
Menurut Irene, komunitas menjadi salah satu kunci untuk menciptakan ekosistem kreatif yang lebih kuat. Kreator tidak seharusnya berjalan sendirian, terutama ketika menghadapi tantangan di ruang digital.
Ia menilai kekuatan konten tidak hanya terletak pada teknologi, tetapi juga pada pesan yang dibawa.
“Kekuatan konten ada di jari-jari kita. Yang penting adalah pesan lewat konten yang disampaikan itu tulus untuk menciptakan perubahan yang bermakna bagi dunia,” katanya.
Irene juga mengingatkan pentingnya membangun ruang digital yang aman. Pemerintah, kata dia, sebelumnya telah mendorong terbentuknya asosiasi kreator konten Indonesia agar para kreator dapat menyatukan suara dan memperjuangkan ruang digital yang aman bagi semua.
Festival untuk memperkuat solidaritas
Sisterhood Festival 2026 digagas Magdalene bersama International Media Support (IMS) dan Women News Network (WNN). Festival tersebut menjadi ruang bagi perempuan untuk bertukar pengalaman, membangun jejaring, mengembangkan keterampilan, sekaligus merayakan perjalanan bersama.
Redaksi Magdalene, Devi Asmarani, mengatakan festival tersebut tidak hanya menghadirkan diskusi mengenai berbagai persoalan perempuan, tetapi juga masterclass, kegiatan komunitas, komedi, dan musik.
“Perjuangan juga perlu dirayakan dengan tertawa, bernyanyi, dan bersenang-senang bersama,” ujar Devi.
Sementara itu, perwakilan IMS, Eva Danayanti, menilai terciptanya ruang aman bagi perempuan membutuhkan keterlibatan banyak pihak.
Keamanan, menurut Eva, tidak cukup hanya dibangun melalui regulasi. Kesadaran masyarakat untuk saling mendukung juga menjadi bagian penting dalam menciptakan ruang publik dan ruang digital yang memungkinkan setiap orang berekspresi serta berkreasi tanpa rasa takut.
“Bilang aman itu tidak hanya sekadar terlindungi dengan ada aturan, tetapi juga apakah orang-orang di sekitarnya memahami bagaimana mendukung untuk menyediakan ruang aman itu sendiri,” kata Eva.
Bagi ekosistem ekonomi kreatif, ruang semacam itu menjadi penting. Sebab, ketika talenta perempuan memiliki kesempatan, jaringan, dan rasa aman untuk berkarya, kontribusi mereka tidak hanya memperkuat industri kreatif, tetapi juga memperkaya keberagaman gagasan di ruang publik.(**)