Survei Unisba: 70,7 Persen Responden Pilih Kental Manis karena Murah, Persepsi Susu Masih Melekat
PagipagiNews.com|JAKARTA – Faktor ekonomi dan persepsi yang terbentuk selama puluhan tahun menjadi penyebab sebagian masyarakat masih memberikan kental manis kepada anak sebagai pengganti susu. Padahal, produk tersebut bukan susu yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan gizi dan pertumbuhan anak.
Survei Universitas Islam Bandung (Unisba) pada 2026 menunjukkan, sebanyak 70,7 persen responden memilih kental manis karena harganya lebih murah. Sementara itu, 68,1 persen menilai produk susu lainnya terlalu mahal.
Ekonom INDEF, Nailul Huda, menilai temuan tersebut memperlihatkan bahwa kondisi ekonomi masih sangat memengaruhi keputusan rumah tangga dalam memenuhi kebutuhan pangan anak.
Ketika harga susu dinilai mahal dan pendapatan keluarga terbatas, kental manis kerap dianggap sebagai pilihan yang lebih terjangkau.
“Beban bagi masyarakat yang semakin berat membuat mereka hanya berpikir ‘yang penting anak anteng’. Kombo inilah yang menyebabkan banyak masyarakat mengonsumsi kental manis sebagai pengganti susu,” kata Nailul.
Menurut dia, pemerintah perlu memperkuat daya beli masyarakat melalui pengendalian harga kebutuhan pokok, penyediaan produk susu dengan harga terjangkau, serta peningkatan pendapatan rumah tangga.
“Pemerintah seharusnya meringankan beban masyarakat dengan menciptakan harga kebutuhan pokok yang terjangkau, hingga menyediakan susu formula bagi masyarakat dengan harga terjangkau. Di sisi lain, kenaikan pendapatan juga harus bisa dikerek secara optimal guna meningkatkan daya beli,” ujarnya.
Persepsi Lama dan Pengaruh Iklan
Selain faktor ekonomi, kebiasaan memberikan kental manis kepada anak juga berkaitan dengan persepsi yang terbentuk selama puluhan tahun. Sebelum terbitnya Peraturan BPOM Nomor 20 Tahun 2021 tentang Perubahan atas Peraturan BPOM Nomor 31 Tahun 2018 tentang Label Pangan Olahan, kental manis pernah dipromosikan melalui iklan dengan citra sebagai susu.
Wakil Rektor Universitas Muhammadiyah Jawa Timur (UMJT) Madiun, Fajar Junaedi, mengatakan iklan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari dapat membentuk ingatan dan persepsi masyarakat dalam jangka panjang.
“Iklan bisa terus membekas di benak audiens ketika tagline dan call to action-nya related dengan audiens. Audiens merasa apa yang disampaikan iklan sejalan dengan apa yang mereka alami,” kata Fajar.
Karena itu, menurut Fajar, edukasi untuk meluruskan persepsi masyarakat perlu dilakukan dengan strategi komunikasi yang menarik, terutama melalui platform digital.
Pegiat kesehatan, termasuk Majelis Kesehatan (Makes) PP Aisyiyah, dinilai perlu menyampaikan informasi yang benar sekaligus mengemasnya dalam pesan yang mudah dipahami dan diingat masyarakat.
“Tantangan yang dihadapi adalah kuatnya pesan iklan ini membekas di audiens. Untuk meluruskannya, kader Aisyiyah harus bisa mengemas iklan yang what to say-nya dalam how to say yang menarik. Tagline dan call to action yang kuat menjadi hal yang perlu dipertimbangkan dalam mengemas pesan iklan untuk meluruskan persepsi salah tentang kental manis,” tuturnya.
Edukasi Gizi Mulai Mengubah Kebiasaan Orang Tua
Wakil Ketua Makes PP Aisyiyah, Dra. Chairunnisa, M.Kes., mengatakan pihaknya masih menemukan orang tua yang memberikan kental manis kepada balita karena menganggapnya sebagai susu.
Temuan tersebut, antara lain, dijumpai dalam kegiatan edukasi di Kabupaten Pringsewu, Lampung. Sejak 2024, Makes PP Aisyiyah menjalankan program edukasi untuk meluruskan pemahaman masyarakat mengenai kental manis.
Pada 2026, program tersebut dikembangkan melalui pendampingan gizi seimbang harian agar keluarga lebih memahami kebutuhan nutrisi anak sesuai usia.
“Di awal program pada 2024, banyak orang tua memberikan kental manis karena mengira itu susu. Pada tahun 2026 ini, kami melangkah lebih jauh di Kabupaten Pringsewu dengan melakukan intervensi pendampingan gizi seimbang harian,” jelas Chairunnisa.
Ia mengatakan edukasi dan pendampingan mulai menunjukkan perubahan. Sejumlah orang tua kini memahami bahwa kental manis bukan susu pertumbuhan dan mulai memberikan makanan bergizi serta produk susu yang sesuai dengan kebutuhan anak.
“Ibu-ibu sudah paham bahwa kental manis itu bukan susu pertumbuhan. Mereka kini memberikan susu yang tepat serta makanan bernutrisi untuk tumbuh kembang anak,” ungkapnya.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa pelurusan informasi perlu berjalan beriringan dengan upaya memperbaiki keterjangkauan pangan bergizi. Dengan begitu, orang tua tidak hanya memahami kebutuhan nutrisi anak, tetapi juga memiliki akses yang lebih baik untuk memenuhinya.[**]