Panas Terik di Pancoran Jadi Saksi Dominasi Batavia FC di Liga Jakarta U-17 Piala Gubernur 2026
PagipagiNews.com|JAKARTA — Matahari tepat berada di atas Pancoran ketika Liga Jakarta U-17 Piala Gubernur 2026 memasuki pertandingan pekan keenam, Minggu (30/8/2026). Suhu sekitar 30 derajat Celsius tak menghalangi para pemain muda untuk berlari, berebut bola, dan menguji ketahanan fisik di Lapangan 2 Sintetis PSF Pancoran.
Dalam pertandingan yang dimulai pukul 12.10 WIB dengan durasi 2×35 menit itu, Batavia FC tampil dominan dan menutup laga dengan kemenangan telak 5-0 atas Bintang Ragunan.
Kapten Batavia FC, M. Habil Gaza Maulidyan, menjadi salah satu bintang lapangan. Mengenakan nomor punggung 9, Habil mencetak dua gol pada menit ke-33 dan 64. Ketajamannya melengkapi permainan agresif Batavia FC yang sejak awal berusaha mengambil kendali pertandingan.
Dua gol lainnya diborong Wahyu Sulthan Athoah bernomor punggung 7 pada menit ke-17 dan 67. Satu gol tambahan dicetak Muhammad Raditya Rizky P bernomor punggung 29 pada menit ke-41.
Lima gol tanpa balas itu menjadi gambaran dominasi Batavia FC, meski sang pelatih kepala, Widiantoro, menilai timnya masih memiliki sejumlah pekerjaan rumah yang harus dibenahi.
“Anak-anak sudah berjuang. Tetapi kami menyerang berkali-kali dan penyelesaian akhir masih kurang memuaskan. Finishing dan transisi masih menjadi pekerjaan rumah penting bagi kami ke depan,” ujar Widiantoro seusai pertandingan.
Menurut Widiantoro, Batavia FC juga memberikan kesempatan kepada sejumlah pemain kelahiran 2010 untuk tampil. Sementara itu, beberapa pemain lainnya harus membagi waktu dengan agenda sekolah dan futsal.
Ia mengakui skema permainan yang disiapkan belum sepenuhnya berjalan sesuai rencana.
“Dari apa yang kami siapkan dalam sesi latihan, khususnya skema permainan, pemahaman anak-anak masih harus ditingkatkan. Mereka harus semakin memahami siapa melakukan apa, bergerak ke mana, dan kapan harus melakukan pressing,” katanya.
Batavia FC pada pertandingan ini ditangani oleh manajer Charis Yulianto, dengan Widiantoro sebagai pelatih kepala. Ia dibantu Supriono sebagai asisten pelatih, Fafa sebagai pelatih kiper, serta Rangga sebagai kitman.
Di kubu lawan, Bintang Ragunan yang dikelola manajer Titi Astuti mencoba memberikan perlawanan. Tim tersebut dipimpin pelatih kepala Teuku Chairul Wisal, didampingi Zulham sebagai asisten pelatih, Encu Sunari sebagai pelatih kiper, dan Dwi Uni Hastuti sebagai kitman.
Namun, Teuku Chairul Wisal mengakui Batavia FC tampil lebih matang dalam membangun permainan. Menurutnya, lawan memiliki kerja sama dan positioning yang lebih rapi sehingga Bintang Ragunan harus bekerja lebih keras, terutama saat kehilangan penguasaan bola.

“Ketika melawan tim kuat seperti Batavia, penguasaan bola mereka lebih baik dan kerja samanya lebih rapi. Kalau lawan menguasai bola, kita akan jauh lebih banyak mengeluarkan tenaga. Ketika sudah mendapatkan bola, kami masih melakukan kesalahan mendasar dalam passing dan pergerakan,” ujar Teuku Chairul.
Meski menelan kekalahan telak, ia melihat proses pembentukan tim dan perkembangan para pemain mudanya masih terus berjalan. Baginya, hasil pertandingan harus menjadi bahan evaluasi untuk menghadapi putaran berikutnya.
“Masih ada progres yang harus dilihat. Ini anak-anak muda, dan tugas kami adalah terus mengingatkan serta membenahi kesalahan mereka. Yang penting ke depan mereka bisa lebih disiplin dan menjalankan taktik yang sudah disiapkan,” katanya.
Pertandingan yang dipimpin wasit Faisal, dengan asisten wasit Iswadi dan Jawahir, juga diwarnai empat kartu kuning. Dari Batavia FC, kartu kuning diberikan kepada A. Khalifi Islami Rasya pada menit ke-23 dan Wiryawan Untario pada menit ke-66. Sementara dari Bintang Ragunan, Yahya Amir Bayagub mendapat kartu kuning pada menit ke-21 dan Indra Dwi Maulana pada menit ke-54.
Kemenangan 5-0 membuat Batavia FC menunjukkan bahwa mereka bukan sekadar tim yang mengandalkan ketajaman individu. Di bawah panasnya matahari Pancoran, kerja sama, penguasaan bola, dan keberanian menyerang menjadi senjata yang membawa mereka menutup pertandingan dengan senyum lebar.
Namun, bagi Widiantoro, lima gol belum menjadi alasan untuk cepat berpuas diri. Masih ada penyelesaian akhir yang perlu dipertajam, transisi yang harus diperbaiki, dan pemahaman taktik yang perlu terus diasah.
Liga kelompok usia memang selalu menyimpan satu pelajaran penting: kemenangan hari ini adalah hasil, tetapi perkembangan pemain adalah tujuan yang sesungguhnya.|Foto : Moh.AminChandra