Obbie Messakh dan Lagu yang Menolak Tua
🎬“Mati Banya”, Ketika Kerinduan Lama Obbie Messakh Menyapa Musik Timur
Pagipaginews.com— Waktu boleh berjalan, tetapi musik rupanya punya cara sendiri untuk membuat seseorang tetap muda. Bagi Obbie Messakh, usia 69 tahun bukan alasan untuk berhenti mencipta. Justru dari perjalanan panjang itulah, ia masih menemukan cerita-cerita baru untuk dijadikan lagu.
Pencipta lagu sekaligus penyanyi itu kembali hadir dengan karya terbaru berjudul “Mati Banya”, sebuah lagu berbahasa Papua yang dibalut warna musik etnik dari kawasan timur Indonesia. Lagu ini menjadi semacam perjumpaan antara pengalaman panjang Obbie sebagai pengisah cinta dan kekayaan bunyi Nusantara.
“Mati Banya” membawa cerita sederhana, tetapi getir. Tentang seorang lelaki yang berharap dapat mengikat janji dengan perempuan yang dicintainya. Namun sebelum harapan itu sempat menjadi kenyataan, sang kekasih justru lebih dahulu menikah dengan orang lain.
Kerinduan kemudian berubah menjadi luka. Penantian berhadapan dengan kenyataan. Dan cinta, seperti sering terjadi dalam lagu-lagu Obbie, akhirnya harus belajar menerima kehilangan.
«“Ancor kaka pung hati babaca undangan biru, sa minggu lagi ade ko mau mengikat janji deng orang lain.”»
Lirik tersebut menjadi pintu masuk menuju suasana batin yang akrab dalam karya Obbie: cinta yang tak selesai, perasaan yang terlambat disampaikan, dan kenangan yang tetap tinggal meski waktu terus bergerak.
Namun, “Mati Banya” tidak sekadar mengulang formula lama. Obbie memilih warna musik yang berbeda dengan memasukkan nuansa etnik Papua. Pilihan tersebut menjadi upayanya memperluas ruang perjumpaan musik populer dengan kekayaan musikal Indonesia dari wilayah timur.
“Semoga lagu ini bisa menambah khasanah musik Indonesia dan bisa diterima masyarakat,” kata Obbie Mesakh.
Di tengah derasnya arus musik generasi baru, Obbie masih memiliki panggungnya sendiri. Pertunjukan off air tetap mendatanginya. Dalam sebulan, ia bahkan dapat tampil sekitar sepuluh kali.
Bagi Obbie, panggung bukan semata tempat mencari nafkah. Di sana ada perjumpaan dengan penonton, ada kenangan, sekaligus tanda bahwa lagu-lagu yang pernah ia lahirkan masih memiliki ruang di hati pendengarnya.
“Puji Tuhan, hingga saat ini saya masih diberi kesehatan dan kegiatan bermusik masih terus jalan,” ujarnya.
Kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi bagi seorang seniman yang telah melewati lebih dari empat dekade perjalanan musik, kesempatan untuk terus bernyanyi merupakan anugerah yang tidak kecil.
Obbie lahir di Jakarta, 26 April 1957, dengan nama Thobias Messakh. Darah Rote, Nusa Tenggara Timur, mengalir dalam dirinya. Namanya mulai dikenal luas dalam industri musik nasional sejak dekade 1980-an, baik sebagai penyanyi maupun pencipta lagu.
Pada masa ketika kaset menjadi jendela utama menuju musik populer, lagu-lagu ciptaan Obbie ikut mengisi ruang dengar masyarakat Indonesia. Karyanya dinyanyikan sejumlah nama besar, antara lain Betharia Sonata, Ratih Purwasih, Helen Sparingga, hingga Chrisye.
“Hati yang Luka”, yang dipopulerkan Betharia Sonata, pernah menjadi fenomena. Lagu itu bahkan sempat dicekal pada era Orde Baru karena dianggap terlalu “cengeng”.
Ada pula “Kisah Kasih di Sekolah”, yang melekat dengan suara Chrisye dan kemudian menjelma menjadi salah satu lagu yang terus hidup lintas generasi. Selain itu, ada “Antara Benci dan Rindu”, “Antara Cinta dan Dusta”, serta sejumlah karya lain yang pernah menemani zaman ketika radio, televisi, dan kaset menjadi bagian penting dari kehidupan musik Indonesia.
Obbie memasuki industri musik nasional pada 1983. Sejumlah album kemudian lahir, antara lain Kau dan Aku Satu, Akhirnya Ku Jatuh Cinta, Aduh Rindu, dan Kisah Kasih di Sekolah.
Kini, lebih dari empat dekade berlalu. Obbie mengaku telah menciptakan lebih dari 300 lagu. Hampir sepersepuluh di antaranya pernah menjadi hit.
Tetapi angka-angka itu barangkali bukan hal terpenting dari perjalanan seorang pencipta lagu. Sebab sebuah lagu tidak berhenti ketika rekaman selesai. Ia terus berjalan melalui suara penyanyi, ingatan pendengar, peristiwa kehidupan, bahkan melalui generasi yang mungkin belum lahir ketika lagu itu pertama kali terdengar.
Di era ketika musik dapat berpindah dari satu layar ke layar lain hanya dalam hitungan detik, karya lama pun memperoleh kesempatan untuk menemukan pendengar baru. Platform digital membuat batas generasi menjadi semakin tipis.
“Mati Banya” hadir di ruang yang sama.
Lagu itu menjadi bab baru dalam perjalanan Obbie—sebuah perjalanan yang tidak sedang mengejar masa lalu, tetapi juga tidak ingin kehilangan akar.
Di usia 69 tahun, Obbie seperti sedang mengingatkan bahwa umur tidak selalu menjadi ukuran produktivitas seorang seniman. Selama masih ada cerita yang mengusik hati, selama masih ada kerinduan yang ingin diterjemahkan, selama telinga masih peka mendengar kehidupan, lagu akan selalu memiliki alasan untuk lahir.
Sebab bagi pencipta lagu, usia mungkin hanya angka.
Yang membuatnya tetap muda adalah cerita yang belum selesai dan Obbie Messakh tampaknya masih mempunyai banyak cerita untuk dinyanyikan.