Skip to content
-
Subscribe to our newsletter & never miss our best posts. Subscribe Now!
Media Pagi Pagi Media Pagi Pagi Media Pagi Pagi
Media Pagi Pagi Media Pagi Pagi Media Pagi Pagi
  • Home
  • Redaksi
  • Video
  • Foto
  • Nasional
  • Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Lifestyle
  • Sport
  • Pariwisata
  • Infotainment
  • Home
  • Redaksi
  • Video
  • Foto
  • Nasional
  • Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Lifestyle
  • Sport
  • Pariwisata
  • Infotainment
Close

Search

Trending Now:
5 Essential Tools Every Blogger Should Use Music Trends That Will Dominate This Year ChatGPT prompts – AI content & image creation trend Ghibli trend – viral anime-style visual trend
  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Subscribe
Media Pagi Pagi Media Pagi Pagi Media Pagi Pagi
Media Pagi Pagi Media Pagi Pagi Media Pagi Pagi
  • Home
  • Redaksi
  • Video
  • Foto
  • Nasional
  • Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Lifestyle
  • Sport
  • Pariwisata
  • Infotainment
  • Home
  • Redaksi
  • Video
  • Foto
  • Nasional
  • Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Lifestyle
  • Sport
  • Pariwisata
  • Infotainment
Close

Search

Trending Now:
5 Essential Tools Every Blogger Should Use Music Trends That Will Dominate This Year ChatGPT prompts – AI content & image creation trend Ghibli trend – viral anime-style visual trend
  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Subscribe
Home/Infotainment/Mengenang Utha Likumahuwa, Suara yang Tak Pernah Benar-benar Pergi
Infotainment

Mengenang Utha Likumahuwa, Suara yang Tak Pernah Benar-benar Pergi

By admin
August 15, 2026 4 Min Read
0

Pagipaginews.com-| Ada suara yang selesai ketika lagu berakhir. Ada pula suara yang justru menemukan keabadian setelah nada terakhir menghilang.

Utha Likumahuwa termasuk di antaranya. Suaranya menjadi bagian dari ingatan musik Indonesia hangat, jernih, dan mudah dikenali. Di balik perjalanan panjangnya sebagai penyanyi, tersimpan kisah tentang musik, keluarga, cinta, serta kesetiaan yang menemani hingga penghujung kehidupan.

Jauh sebelum dikenal sebagai penyanyi, Utha lebih dahulu menapaki dunia musik dari Bandung pada era 1970-an. Ia membentuk sebuah kelompok bernama Big Brother. Nama itu bukan sekadar pilihan, melainkan cerminan ikatan antarpersonel yang memiliki saudara lebih dahulu terjun ke dunia musik.

Menariknya, Utha tidak langsung berdiri di depan mikrofon. Ia justru memainkan drum.

Perjalanan itu kemudian membawanya ke Jopie Item Combo. Bersama kelompok jazz rock tersebut, Utha mulai menemukan dirinya sebagai vokalis. Mereka kerap tampil di Captain Bar, Mandarin Hotel, Jakarta. Dari panggung-panggung malam itulah namanya perlahan tumbuh.

Momentum penting datang pada 1981 ketika Utha menjuarai Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors melalui lagu “Tembang Pribumi” karya Christ Kayhatu. Setahun kemudian, ia merilis album perdana, Nada & Apresiasi, melalui Granada Records.

Bersama Jopie Item,Rully Djohan dan Adhi MS

Namun, perjalanan kariernya belum berhenti.

Pada 1985, Utha merilis Aku Pasti Datang, sebuah album yang kelak menjadi salah satu penanda penting dalam perjalanan musiknya. Komposer Addie MS bahkan melakukan eksperimen khusus untuk menemukan karakter suara Utha yang paling tepat direkam.

Di sebuah studio, Utha diminta bernyanyi menggunakan delapan mikrofon dari berbagai merek. Satu demi satu dicoba. Dari percobaan itu, Addie memilih Shure SM58 sebagai mikrofon yang dianggap paling mampu menangkap karakter vokal Utha.

Pilihan tersebut seolah menemukan pasangan yang tepat. Aku Pasti Datang kemudian meledak di pasaran. Sejak saat itu, mikrofon pilihan Addie menjadi bagian dari perjalanan rekaman Utha.

Di balik gemerlap panggung dan kesuksesan album, kehidupan Utha berjalan dalam irama yang lebih sederhana: keluarga.

Ia menikah dengan Debby Farida. Dari pernikahan itu lahir dua anak, Veronica Likumahuwa dan Abraham Likumahuwa. Utha juga merupakan adik musisi Benny Likumahuwa dan paman dari Barry Likumahuwa.

Bagi Utha, rumah bukan sekadar tempat kembali setelah pertunjukan. Keluarga menjadi ruang untuk menjaga keseimbangan di tengah perjalanan panjang sebagai musisi.

Kisah bersama Debby menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perjalanan tersebut. Pernikahan mereka pada 1974 berlangsung jauh dari hiruk-pikuk sensasi. Selama bertahun-tahun, keduanya membangun kehidupan dengan kesetiaan dan kebersamaan.

Ketika kesehatan Utha mulai menurun, makna kebersamaan itu semakin dalam.

Pada Juni 2011, Utha mengalami serangan stroke ketika berada di rumah saudaranya di Pekanbaru. Setelah menjalani pemeriksaan, ia diketahui mengalami diabetes dan gangguan jantung. Kondisi tersebut membuat aktivitasnya terbatas dan menjadi babak berat dalam kehidupannya.

Dari panggung yang dahulu dipenuhi cahaya dan tepuk tangan, Utha kemudian menjalani hari-hari dalam perawatan. Di masa sulit itu, Debby tetap berada di sisinya.

Kesetiaan sering kali tidak membutuhkan panggung. Ia hadir dalam hari-hari biasa, ketika seseorang memilih untuk tetap tinggal ketika keadaan tak lagi mudah.

Utha pun tetap meninggalkan jejak di panggung musik Indonesia. Prestasinya tidak hanya terhenti di dalam negeri. Pada 1989, ia meraih penampilan terbaik kedua dalam ASEAN Pop Song Festival di Manila melalui “Sesaat Kau Hadir”, karya Budi Bachtiar dan Adi Murdianto. Pada tahun yang sama, ia menjadi juara kedua Asia Pacific Singing Contest di Hong Kong.

Setahun kemudian, Utha kembali mencatat prestasi internasional. Bersama Trie Utami, ia meraih juara kedua Asia Pacific Broadcasting Union (ABU) Golden Kite World Song Festival di Kuala Lumpur melalui lagu “Mungkinkah Terjadi” karya Jorgy Thito.

Bersama Sang Istri tercinta Debby Farida

Musik, bagi Utha, rupanya selalu menemukan jalan untuk melampaui batas tempat dan waktu.

Bahkan ketika berada di masa sulit, kepeduliannya terhadap sesama tetap hadir. Pada 21 Juni 2006, Utha bersama sejumlah penyanyi jazz menggelar konser di Kediri, Jawa Timur, untuk membantu korban gempa Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Pada 13 September 2011, perjalanan hidup Utha Likumahuwa berakhir di Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta Selatan. Ia dimakamkan sehari kemudian di TPU Cipaku, Kota Bogor, Jawa Barat.

Namun, kematian tidak serta-merta mengakhiri perjalanan seorang penyanyi.

Ada lagu-lagu yang terus diputar. Ada suara yang kembali hadir ketika seseorang menekan tombol play. Ada kenangan yang tumbuh kembali setiap kali sebuah melodi terdengar.

Begitu pula Utha.

Ia telah pergi, tetapi suaranya tetap menemukan jalan untuk pulang kepada pendengarnya. Sementara di balik karya-karya yang dikenang itu, kisah cintanya bersama Debby Farida meninggalkan pelajaran lain: bahwa cinta bukan hanya tentang menemani seseorang ketika hidup sedang terang, melainkan juga tentang bertahan ketika perjalanan memasuki lorong yang paling sunyi.

Barangkali itulah cara paling indah untuk mengenang Utha Likumahuwa.

Bukan semata sebagai penyanyi dengan suara emas, melainkan sebagai manusia yang pernah mencintai, dicintai, berkarya, berjuang, dan meninggalkan sesuatu yang lebih panjang daripada usia sebuah suara yang terus hidup dalam ingatan.|Foto : Istimewa.

Tags:

DebbyFaridaKisahMusikLegendaMusikIndonesiaMusikIndonesiaUthaLikumahuwa
Author

admin

Follow Me
Other Articles
Previous

Putri Juficha Berpulang di Hari Ulang Tahun, Tinggalkan Jejak di Dunia Pageant dan Lingkungan

Next

Dari Sampah Menjadi Sumber Penghidupan, Kisah GO-SARI di Guwosari

No Comment! Be the first one.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

  • Bukan Sekadar Piringan Hitam, Fadli Zon Ingin Vinyl Jadi Jejak Sejarah Musik Indonesia
  • Inside The Radio Buka Era Baru lewat Single “Miss Takes”
  • Pendaftaran BeZakat 2026 Diperpanjang, Mahasiswa Baru Masih Punya Waktu hingga 14 September
  • Sidang Praperadilan Notaris Lily Memanas, Artahsasta Pertanyakan Dasar Penetapan Tersangka
  • Hanya  2 Hari! “SaWaDiKa” Antar Lisa BLACKPINK Jadi Pemegang Rekor MV Tercepat 2026

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • September 2026
  • August 2026
  • October 2025
  • September 2025

Categories

  • Daerah
  • Hukum
  • Infotainment
  • Lifestyle
  • Nasional
  • Pariwisata
  • Politik
  • Sport
  • Uncategorized
Hey, I’m Alex. I build frontend experiences and dive into tech, business, and wellness.
  • X
  • Instagram
  • Facebook
  • YouTube
Work Experience

Velora Labs

Frontend Developer

2021-present

Luxora Digital

Web Developer

2019-2021

Averion Studio

Support Specialist

2017-2019

Available for Hire
Get In Touch

Recent Posts

  • Bukan Sekadar Piringan Hitam, Fadli Zon Ingin Vinyl Jadi Jejak Sejarah Musik Indonesia
    by admin
    September 8, 2026
  • The Hidden Potential of Bitcoin
    by sigmacreativeindonesia@gmail.com
    September 30, 2025
  • Kickstart Your Blogging Journey Today
    by sigmacreativeindonesia@gmail.com
    September 30, 2025
  • Morning Routines That Boost Your Productivity
    by sigmacreativeindonesia@gmail.com
    October 1, 2025

Search...

Technologies

Figma

Collaborate and design interfaces in real-time.

Notion

Organize, track, and collaborate on projects easily.

DaVinci Resolve 20

Professional video and graphic editing tool.

Illustrator

Create precise vector graphics and illustrations.

Photoshop

Professional image and graphic editing tool.

Copyright 2026 — Media Pagi Pagi. All rights reserved. <b