Mengenang Dian Pramana Poetra, Nada yang Tak Lekang oleh Waktu
PagipagiNews.com|JAKARTA-|Nama Dian Pramana Poetra melekat dalam perjalanan musik Indonesia, terutama pada era ketika lagu-lagu bernuansa pop dan jazz tumbuh dengan karakter yang kuat. Bakat bermusiknya mengalir dari sang ayah yang juga seorang pemusik jazz. Dari sanalah, Dian menemukan ruang untuk mengekspresikan rasa melalui nada dan lirik.
Langkahnya di dunia musik mulai mendapat perhatian ketika mengikuti festival Lomba Cipta Lagu Remaja 1980. Lewat lagu Pengabdian, Dian berhasil meraih juara ketiga. Pencapaian itu menjadi salah satu penanda awal perjalanan panjangnya sebagai penyanyi sekaligus pencipta lagu.
Dian kemudian dikenal lewat sejumlah kolaborasi, salah satunya bersama Deddy Dhukun. Keduanya tergabung dalam duo 2D dan melahirkan sejumlah karya yang hingga kini masih dikenang pencinta musik Indonesia. Lagu seperti Keraguan, Dor Dor Dor, Percaya atau Tidak, dan Semua Jadi Satu menjadi bagian dari warisan musikal mereka.
Sebelum bersama 2D, Dian juga pernah membentuk K3S atau Kelompok 3 Suara bersama Deddy Dhukun dan Bagoes A. Ariyanto. Trio tersebut sempat merilis beberapa album yang mendapat tempat di hati pendengar pada masanya.
Sebagai pencipta lagu, karya Dian juga dinyanyikan banyak penyanyi ternama. Dari Deddy Dhukun, January Christy, Tika Bisono, Utha Likumahuwa, Chrisye, Ruth Sahanaya, Hetty Koes Endang, hingga Broery Marantika. Lagu-lagu ciptaannya turut menjadi bagian dari perjalanan musik sejumlah penyanyi Indonesia.
Karya-karya seperti Bunga-Bunga Kerinduan, Kesan, Cinta Itu Terbuka, Haruskah, Kasmaran, Entah Mengapa, dan Untukmu memperlihatkan luasnya warna musikal yang ia tinggalkan.

Dian Pramana Poetra meninggal dunia pada 27 Desember 2018 dalam usia 57 tahun. Kepergiannya menyisakan duka, tetapi juga meninggalkan sesuatu yang lebih panjang dari usia: lagu-lagu yang terus diputar, dinyanyikan, dan dikenang.
Musik memang memiliki cara sendiri untuk membuat seseorang tetap hadir. Meski penciptanya telah tiada, nada dan lirik yang pernah lahir dari hati dapat terus menemukan pendengarnya, bahkan bertahun-tahun kemudian.
Itulah Dian Pramana Poetra. Ia mungkin telah pergi, tetapi jejak musiknya masih hidup mengalun dari satu generasi ke generasi berikutnya.|Foto : Istimewa