Mengenang Utha Likumahuwa, Suara yang Tak Pernah Benar-benar Pergi
Pagipaginews.com-| Ada suara yang selesai ketika lagu berakhir. Ada pula suara yang justru menemukan keabadian setelah nada terakhir menghilang.
Utha Likumahuwa termasuk di antaranya. Suaranya menjadi bagian dari ingatan musik Indonesia hangat, jernih, dan mudah dikenali. Di balik perjalanan panjangnya sebagai penyanyi, tersimpan kisah tentang musik, keluarga, cinta, serta kesetiaan yang menemani hingga penghujung kehidupan.
Jauh sebelum dikenal sebagai penyanyi, Utha lebih dahulu menapaki dunia musik dari Bandung pada era 1970-an. Ia membentuk sebuah kelompok bernama Big Brother. Nama itu bukan sekadar pilihan, melainkan cerminan ikatan antarpersonel yang memiliki saudara lebih dahulu terjun ke dunia musik.
Menariknya, Utha tidak langsung berdiri di depan mikrofon. Ia justru memainkan drum.
Perjalanan itu kemudian membawanya ke Jopie Item Combo. Bersama kelompok jazz rock tersebut, Utha mulai menemukan dirinya sebagai vokalis. Mereka kerap tampil di Captain Bar, Mandarin Hotel, Jakarta. Dari panggung-panggung malam itulah namanya perlahan tumbuh.
Momentum penting datang pada 1981 ketika Utha menjuarai Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors melalui lagu “Tembang Pribumi” karya Christ Kayhatu. Setahun kemudian, ia merilis album perdana, Nada & Apresiasi, melalui Granada Records.

Namun, perjalanan kariernya belum berhenti.
Pada 1985, Utha merilis Aku Pasti Datang, sebuah album yang kelak menjadi salah satu penanda penting dalam perjalanan musiknya. Komposer Addie MS bahkan melakukan eksperimen khusus untuk menemukan karakter suara Utha yang paling tepat direkam.
Di sebuah studio, Utha diminta bernyanyi menggunakan delapan mikrofon dari berbagai merek. Satu demi satu dicoba. Dari percobaan itu, Addie memilih Shure SM58 sebagai mikrofon yang dianggap paling mampu menangkap karakter vokal Utha.
Pilihan tersebut seolah menemukan pasangan yang tepat. Aku Pasti Datang kemudian meledak di pasaran. Sejak saat itu, mikrofon pilihan Addie menjadi bagian dari perjalanan rekaman Utha.
Di balik gemerlap panggung dan kesuksesan album, kehidupan Utha berjalan dalam irama yang lebih sederhana: keluarga.
Ia menikah dengan Debby Farida. Dari pernikahan itu lahir dua anak, Veronica Likumahuwa dan Abraham Likumahuwa. Utha juga merupakan adik musisi Benny Likumahuwa dan paman dari Barry Likumahuwa.
Bagi Utha, rumah bukan sekadar tempat kembali setelah pertunjukan. Keluarga menjadi ruang untuk menjaga keseimbangan di tengah perjalanan panjang sebagai musisi.
Kisah bersama Debby menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perjalanan tersebut. Pernikahan mereka pada 1974 berlangsung jauh dari hiruk-pikuk sensasi. Selama bertahun-tahun, keduanya membangun kehidupan dengan kesetiaan dan kebersamaan.
Ketika kesehatan Utha mulai menurun, makna kebersamaan itu semakin dalam.
Pada Juni 2011, Utha mengalami serangan stroke ketika berada di rumah saudaranya di Pekanbaru. Setelah menjalani pemeriksaan, ia diketahui mengalami diabetes dan gangguan jantung. Kondisi tersebut membuat aktivitasnya terbatas dan menjadi babak berat dalam kehidupannya.
Dari panggung yang dahulu dipenuhi cahaya dan tepuk tangan, Utha kemudian menjalani hari-hari dalam perawatan. Di masa sulit itu, Debby tetap berada di sisinya.
Kesetiaan sering kali tidak membutuhkan panggung. Ia hadir dalam hari-hari biasa, ketika seseorang memilih untuk tetap tinggal ketika keadaan tak lagi mudah.
Utha pun tetap meninggalkan jejak di panggung musik Indonesia. Prestasinya tidak hanya terhenti di dalam negeri. Pada 1989, ia meraih penampilan terbaik kedua dalam ASEAN Pop Song Festival di Manila melalui “Sesaat Kau Hadir”, karya Budi Bachtiar dan Adi Murdianto. Pada tahun yang sama, ia menjadi juara kedua Asia Pacific Singing Contest di Hong Kong.
Setahun kemudian, Utha kembali mencatat prestasi internasional. Bersama Trie Utami, ia meraih juara kedua Asia Pacific Broadcasting Union (ABU) Golden Kite World Song Festival di Kuala Lumpur melalui lagu “Mungkinkah Terjadi” karya Jorgy Thito.

Musik, bagi Utha, rupanya selalu menemukan jalan untuk melampaui batas tempat dan waktu.
Bahkan ketika berada di masa sulit, kepeduliannya terhadap sesama tetap hadir. Pada 21 Juni 2006, Utha bersama sejumlah penyanyi jazz menggelar konser di Kediri, Jawa Timur, untuk membantu korban gempa Yogyakarta dan Jawa Tengah.
Pada 13 September 2011, perjalanan hidup Utha Likumahuwa berakhir di Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta Selatan. Ia dimakamkan sehari kemudian di TPU Cipaku, Kota Bogor, Jawa Barat.
Namun, kematian tidak serta-merta mengakhiri perjalanan seorang penyanyi.
Ada lagu-lagu yang terus diputar. Ada suara yang kembali hadir ketika seseorang menekan tombol play. Ada kenangan yang tumbuh kembali setiap kali sebuah melodi terdengar.
Begitu pula Utha.
Ia telah pergi, tetapi suaranya tetap menemukan jalan untuk pulang kepada pendengarnya. Sementara di balik karya-karya yang dikenang itu, kisah cintanya bersama Debby Farida meninggalkan pelajaran lain: bahwa cinta bukan hanya tentang menemani seseorang ketika hidup sedang terang, melainkan juga tentang bertahan ketika perjalanan memasuki lorong yang paling sunyi.
Barangkali itulah cara paling indah untuk mengenang Utha Likumahuwa.
Bukan semata sebagai penyanyi dengan suara emas, melainkan sebagai manusia yang pernah mencintai, dicintai, berkarya, berjuang, dan meninggalkan sesuatu yang lebih panjang daripada usia sebuah suara yang terus hidup dalam ingatan.|Foto : Istimewa.