mBah Coco Soroti Pembinaan Pemain Muda: EPA Jangan Berhenti di Kompetisi
PagipagiNews.com — Pembinaan pemain usia muda menjadi salah satu pekerjaan rumah sepak bola Indonesia di tengah upaya membangun tim nasional yang lebih kuat.
Pengamat sepak bola senior mBah Coco menilai pembinaan tidak cukup hanya dilakukan melalui kompetisi Elite Pro Academy (EPA). Menurut dia, klub perlu memiliki sistem yang berkesinambungan agar pemain muda tidak berhenti setelah menyelesaikan satu jenjang usia.
EPA Super League musim 2025/2026 kembali mempertandingkan tiga kelompok umur, yakni U-16, U-18, dan U-20. Kompetisi tersebut menjadi salah satu jalur penting dalam pembinaan pemain muda di Indonesia.
Namun, mBah Coco mengingatkan bahwa kompetisi seharusnya bukan tujuan akhir.
“Sepak bola itu mimpinya anak-anak miskin,” ujar mBah Coco, mengingat kembali pernyataan legenda sepak bola Brasil, Pele, saat keduanya bertemu di Birmingham pada 1995.
Bagi mBah Coco, mimpi tersebut harus diikuti sistem pembinaan yang serius. Klub perlu memperhatikan kualitas pelatih, kebugaran, psikologi, peran orangtua, pemahaman terhadap aturan permainan, hingga pengelolaan akademi.
Dari Akademi ke Tim Utama
Salah satu persoalan yang disoroti adalah kesinambungan karier pemain.
mBah Coco mempertanyakan nasib pemain yang pernah memperkuat tim nasional kelompok umur, termasuk mereka yang tampil bersama Indonesia U-17 pada Piala Dunia U-17 2023 dan tim U-20.
“Ke mana para pemain young guns itu setelah membela tim nasional kelompok umur?” kata dia.
Pertanyaan tersebut menjadi penting karena pembinaan usia muda seharusnya memiliki jalur yang jelas menuju sepak bola profesional.
Pemain tidak cukup hanya mendapatkan pengalaman bertanding di kelompok umur. Mereka juga membutuhkan kesempatan untuk berkembang menuju tim senior.
Karena itu, keberhasilan akademi semestinya tidak hanya diukur dari gelar juara. Lebih jauh, perlu dilihat berapa banyak pemain yang mampu menembus tim utama dan kemudian menjadi bagian dari tim nasional.
Soal Dugaan Outsourcing
mBah Coco juga menyoroti dugaan penggunaan pola outsourcing dalam pemenuhan pemain EPA oleh sejumlah klub.
Ia menyebut beberapa klub, antara lain Persik Kediri, Dewa United, Garudayaksa FC, dan Persita Tangerang.
Namun, dugaan tersebut masih memerlukan pembuktian. Data kompetisi I.League musim 2025/2026 mencatat Persik, Dewa United, dan Persita memiliki tim U-16 dan U-18. Persik U-16 bahkan menjadi juara EPA Super League U-16.
Karena itu, persoalan mengenai pengelolaan akademi perlu dilihat secara lebih utuh, termasuk struktur pembinaan, kerja sama dengan pihak lain, serta tanggung jawab klub terhadap perkembangan pemain.
Yang terpenting, pemain muda harus memperoleh lingkungan pembinaan yang sehat dan berkelanjutan.
Bukan Sekadar Trofi
Pada musim 2025/2026, Persik U-16, Malut United U-18, dan Persija U-20 menjadi juara di kelompok masing-masing.
Prestasi itu menjadi bagian dari perjalanan kompetisi. Namun, tantangan berikutnya adalah memastikan para pemain terbaik memiliki jalan menuju level senior.
Direktur Utama PT Liga Indonesia Baru Ferry Paulus sebelumnya menyampaikan bahwa EPA kembali mempertandingkan U-16, U-18, dan U-20 dengan durasi kompetisi yang diperpanjang.
Pengembangan kompetisi karena itu perlu berjalan seiring dengan pembenahan sistem pembinaan klub.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan sepak bola usia muda bukan semata jumlah pertandingan atau trofi.
Ukuran yang lebih penting adalah berapa banyak pemain yang berkembang menjadi pesepak bola profesional dan mampu memperkuat tim nasional.
Bagi mBah Coco, mimpi anak-anak terhadap sepak bola harus dijawab dengan pembinaan yang konsisten.
EPA boleh menjadi panggung. Tetapi perjalanan pemain menuju sepak bola profesional tidak boleh berhenti di sana.