Empat Pemain Asing Ramaikan Liga Soeratin Jakarta U-15, Grassroot Jakarta Makin Mendunia
PagipagiNews.com|JAKARTA ā Kompetisi sepak bola usia muda di Jakarta mulai menunjukkan warna berbeda. Liga Soeratin Jakarta U-15 2026 yang digelar “Kandang Ayam” Productions di Lapangan PSF MBAU Pancoran, Jakarta Selatan, kini diramaikan empat pemain asing.
Mereka datang dari empat negara berbeda, yakni Denmark, Sudan, Inggris, dan Jepang. Kehadiran mereka menjadi sinyal bahwa kompetisi grassroot di Jakarta mulai menarik perhatian keluarga ekspatriat yang mencari wadah kompetisi bagi anak-anaknya.
Keempat pemain tersebut juga telah menjalani proses verifikasi dan screening sebelum diperbolehkan tampil.
Fenomena ini tentu menarik. Sebab, jika pemain asing sudah menjadi pemandangan lumrah di kompetisi profesional seperti Liga 1 dan Liga 2, kini wajah serupa mulai terlihat di level grassroot.
Namun, ada satu hal yang membedakan. Mereka datang bukan untuk mengejar kontrak profesional atau sekadar memburu trofi. Kompetisi menjadi ruang untuk mendapatkan pengalaman, jam terbang, sekaligus mengembangkan kemampuan bermain.
Empat Negara, Empat Talenta
Pemain asing pertama adalah Ilias Isak. Pemain berusia 14 tahun itu memperkuat Tunas Indonesia dengan nomor punggung 77.
Ilias berdarah Maroko dan berkewarganegaraan Denmark. Beroperasi sebagai gelandang maupun playmaker, ia sudah tampil sejak putaran pertama dan selalu dipercaya menjadi starter.
Meski belum mencetak gol, kemampuan teknis Ilias menarik perhatian tim pemandu bakat “Kandang Ayam”, Berti Tutuarima dan Patar Tambunan.
Namanya bahkan masuk daftar 50 pemain terbaik pilihan kedua pemandu bakat tersebut.
Tiga pemain lainnya bergabung bersama PSF Academy.
Ada Ahmed Muhab Muhamad, pemain berkewarganegaraan Sudan. Lahir 18 Maret 2011, Ahmed memiliki tinggi 175 cm dan berposisi sebagai gelandang serang.
Ia akan memperkuat PSF Academy U-16 dengan nomor punggung 27. Ahmed saat ini bersekolah di Sudanese Africa Asian School, Tebet, Jakarta Selatan.
Untuk urusan idola, Neymar menjadi pemain yang dikaguminya.
Kemudian ada Nathanial Alexander Akbar Dykes, pemain kelahiran London, Inggris, 10 Agustus 2011.
Nathanial memiliki tinggi 170 cm dan berposisi sebagai gelandang. Ia akan mengenakan nomor punggung 2 bersama PSF Academy.
Nathanial bahkan datang langsung bersama sang ayah, Peter Dykes, ke Lapangan PSF Pancoran pada Minggu (13/9/2026).
Peter mengungkapkan, kesempatan mendapatkan kompetisi menjadi salah satu alasan dirinya mendaftarkan sang anak ke PSF Academy.
“Di Indonesia, tidak ada kompetisi, tapi saat ada informasi di PSF Pancoran bahwa ada wadah kompetisi, langsung bergegas anaknya didaftarkan,” ujar Peter.
Nathanial merupakan siswa kelas 9 HighScope Cilandak. Di sekolah, ia juga mengikuti kegiatan ekstrakurikuler sepak bola.
Sementara itu, satu pemain asing lainnya adalah Shinichi Fujita. Pemain kelahiran Jepang, 10 April 2013, tersebut dijadwalkan tampil pada putaran kedua Liga Soeratin Jakarta U-15.
Fujita saat ini bersekolah di Jakarta Japan School.
Sang ayah, Takao Fujita, menyebut sepak bola sudah menjadi bagian dari keseharian anak-anak di Jepang.
“Di Jepang semua anak-anak sudah bermain sepakbola,” katanya.
Bukan Sekadar Mengejar Trofi
Direktur Teknik PSF Academy dan Batavia FC, Ibnu Graham, menilai keberadaan pemain asing di akademi bukan sesuatu yang mengejutkan.
Mantan gelandang Persebaya Surabaya itu menyebut sejumlah keluarga asing yang tinggal di Jakarta memang membutuhkan tempat bagi anak-anak mereka untuk berlatih sekaligus memperoleh pengalaman bertanding.
Lokasi PSF yang strategis menjadi salah satu pertimbangan.
Tetapi bagi Ibnu, faktor terpenting tetap kompetisi.
Menurutnya, pemain usia muda tidak cukup hanya berlatih. Mereka membutuhkan pertandingan sebanyak mungkin agar kemampuan teknis dan mentalnya berkembang.
“Kompetisi grassroot harus digalakkan sebanyak mungkin karena anak-anak butuh jam terbang, mengasah skill dan mental, serta waktunya dari sekolah ke olahraga. Mereka butuh kesenangan bertemu teman-teman baru, bukan main handphone,” kata Ibnu.
Pandangan tersebut sejalan dengan konsep yang sejak awal dibangun “Kandang Ayam” Productions.
Kompetisi grassroot yang mereka gagas bukan turnamen singkat yang selesai dalam satu atau dua pekan. Formatnya dirancang menjadi kompetisi jangka panjang sehingga pemain mendapatkan kesempatan bertanding secara konsisten.
Dari 306 Laga hingga 500 Pertandingan
Gagasan tersebut lahir dari keprihatinan para jurnalis veteran yang pernah berkecimpung di sepak bola nasional. Mereka melihat kompetisi usia muda di Jakarta masih membutuhkan ruang yang lebih banyak dan berkelanjutan.
Pada 2025, “Kandang Ayam” Productions memulainya melalui Liga Jakarta U-17.
Kompetisi tersebut berlangsung sekitar delapan setengah bulan, April hingga November, dengan total 306 pertandingan dan melibatkan 18 klub amatir Jakarta serta sekitarnya.
Format itu kemudian diperluas pada musim 2026.
Selain Liga Jakarta U-17, digelar pula Liga Soeratin Jakarta U-15. Masing-masing kompetisi diikuti 16 klub yang berasal dari klub amatir, SSB, dan akademi.
Secara keseluruhan, sekitar 500 pertandingan dijadwalkan berlangsung sepanjang musim 2026 hingga Desember mendatang.
Di tengah panjangnya kompetisi tersebut, muncul pula cerita menarik: empat pemain dari empat negara ikut merasakan atmosfer sepak bola usia muda Jakarta.
Bagi grassroot, kehadiran mereka bukan sekadar statistik.
Ini menjadi gambaran bahwa Jakarta memiliki potensi menjadi salah satu ruang pertemuan talenta muda dari berbagai negara.
Sebab, pada akhirnya, sepak bola usia muda bukan hanya soal siapa yang paling banyak menang atau siapa yang mengangkat trofi.
Ada proses panjang di dalamnya: mendapatkan menit bermain, mengasah teknik, membangun mental, belajar bekerja sama, hingga menemukan kegembiraan bermain sepak bola.
Dan dari lapangan-lapangan grassroot seperti PSF Pancoran, perjalanan panjang itu dimulai.
Bisa jadi, dari kompetisi yang awalnya dibangun oleh para jurnalis veteran inilah, kelak muncul nama-nama muda yang melangkah jauh ke panggung sepak bola yang lebih besar.[]