218 Candi Perwara Prambanan Masih Runtuh, Pemerintah Siapkan Restorasi Besar
PagipagiNews.com|SLEMAN— Upaya memulihkan kompleks Candi Prambanan dan Candi Sewu memasuki agenda besar. Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia tengah menyiapkan strategi restorasi dan revitalisasi menyeluruh agar warisan monumental abad ke-9 Masehi itu tidak sekadar menjadi peninggalan masa lalu, tetapi kembali hidup di tengah masyarakat.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan, restorasi kompleks Candi Prambanan membutuhkan kajian dan keterlibatan banyak ahli. Kompleksitas pemugaran terutama terlihat pada ratusan candi perwara yang mengelilingi tiga candi utama, yakni Candi Siwa, Brahma, dan Wisnu.
Berdasarkan catatan arkeologis, kompleks Candi Prambanan memiliki 224 candi perwara. Namun, sejak era kemerdekaan hingga kini, baru enam candi perwara yang berhasil dipugar. Sebanyak 218 candi lainnya masih dalam kondisi runtuh atau belum direkonstruksi.
Enam candi perwara yang telah dipugar, dengan ketinggian mencapai 14 meter, kini menjadi prototipe teknis sekaligus tolok ukur untuk menentukan metode rekonstruksi pada tahap berikutnya.
“Kami sedang membahas bagaimana melakukan satu restorasi besar terhadap Candi Prambanan ini, tentu saja nanti akan melibatkan banyak ahli sehingga Candi Prambanan bisa kita restorasi secara utuh,” kata Fadli saat meninjau kawasan Candi Prambanan dan Candi Sewu, Selasa (8/9/2026).
Material Asli Jadi Tantangan
Pemugaran candi perwara bukan pekerjaan sederhana. Salah satu persoalan utama adalah keterbatasan material batu asli yang masih tersedia di lokasi.
Sebagian batu candi diperkirakan telah terdispersi pada masa lalu untuk berbagai keperluan. Akibatnya, pada sejumlah titik candi, material batu asli yang tersisa diperkirakan hanya berkisar 10-30 persen.
Kondisi material yang ditemukan pun beragam. Sebagian batu masih utuh, sebagian lainnya telah pecah, sedangkan batu yang lain mengalami degradasi dan pelapukan akibat penggaraman serta faktor lingkungan mikro.
Karena itu, Kementerian Kebudayaan tengah melakukan kajian komprehensif dengan melibatkan ahli dari berbagai disiplin, termasuk konservasi, arkeologi, dan teknik struktur.
Restorasi berskala besar tersebut juga membuka peluang kerja sama internasional. Pemerintah India, misalnya, menyatakan komitmen mendukung pemugaran satu kuadran atau seperempat area candi perwara. Rencana itu kini masih dalam tahap kajian mendalam.
Sementara itu, tiga kuadran lainnya akan direstorasi secara mandiri oleh tim ahli nasional dengan tetap mengacu pada kaidah pemugaran yang berlaku di bawah prinsip-prinsip UNESCO.
Dari Warisan Budaya Menjadi Warisan Hidup
Kompleks Candi Prambanan sebelumnya juga menjadi perhatian dalam kunjungan Presiden Prabowo Subianto bersama Perdana Menteri India Narendra Modi pada Juli lalu. Kawasan tersebut tidak hanya memiliki nilai sejarah dan arsitektur, tetapi juga menyimpan wawasan serta kekayaan budaya yang mendalam.
Fadli berharap pemugaran menyeluruh nantinya tidak berhenti pada pemulihan fisik bangunan. Restorasi diharapkan mampu menghidupkan kembali ekosistem pariwisata berbasis budaya, sejarah, dan religi.
Dengan demikian, Candi Prambanan dan Candi Sewu dapat semakin menarik wisatawan nusantara maupun mancanegara sekaligus memberikan dampak ekonomi dan sosial yang berkelanjutan bagi masyarakat di sekitarnya.
“Harapannya semoga bisa mendatangkan semakin banyak wisatawan budaya, wisata sejarah, wisatawan religi dari berbagai negara, wisatawan asing dan juga dari domestik,” ujar Fadli.
Dalam peninjauan tersebut, Menbud didampingi Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Restu Gunawan, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan DI Yogyakarta Nahar Cahyandaru, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Tengah Riris Purbasari, serta maestro perupa I Nyoman Nuarta.
Menbud menegaskan, restorasi Candi Prambanan dan candi-candi perwaranya merupakan pekerjaan jangka panjang yang membutuhkan komitmen kolaboratif dan sinergi berbagai pihak, termasuk kerja sama internasional.
Lebih dari sekadar proyek rekonstruksi fisik, upaya tersebut diharapkan menjadi bagian dari penguatan identitas bangsa sekaligus menjadikan kompleks candi sebagai warisan hidup yang tetap memiliki arti dan manfaat bagi masyarakat masa kini.|Dokumentasi: Kementerian Kebudayaan / Heri Budi Santoso.