Mbah Coco: Suporter Pemain ke-12, Bukan Pelatih ke-12
PagipagiNews.com|JAKARTA – Suporter adalah nyawa sepakbola. Tanpa tribun, tanpa nyanyian dan dukungan, pertandingan terasa hambar.
Namun, Mbah Coco mengingatkan: cinta kepada klub bukan berarti suporter boleh mengatur semuanya.
“Suporter itu pemain ke-12, bukan pelatih ke-12,” tegas Mbah Coco dalam bincang bincang di Markas Kandang Ayam, Rawamangun Jakarta Timur, Rabu(16/9)
Menurutnya, suporter sah-sah saja mengkritik manajemen, memprotes kebijakan, bahkan melakukan boikot secara damai. Tetapi, jangan sampai protes berubah menjadi tekanan untuk menentukan pelatih, pemain, transfer, hingga strategi pertandingan.
Boikot boleh, mendikte jangan!
Mbah Coco menyoroti dinamika yang terjadi di sejumlah klub, termasuk PSPS Riau. Kekecewaan akibat hasil pertandingan wajar terjadi. Tetapi keputusan teknis tetap menjadi tanggung jawab manajemen, direktur teknik dan pelatih.
Hal serupa berlaku dalam polemik tiket. Suporter berhak keberatan jika harga tiket dianggap terlalu mahal. Pilihan untuk tidak membeli tiket merupakan bentuk protes. Namun, intimidasi dan pemaksaan bukan jalan keluarnya.
Di sisi lain, Mbah Coco juga mengingatkan suporter agar tidak membuat klub merugi. Flare, kerusuhan atau pelanggaran lain dapat berujung sanksi dan denda.
“Kalau cinta klub, jangan sampai justru membuat klub kehilangan uang,” ujarnya.
Baginya, suporter tetap memiliki posisi istimewa. Mereka bukan pemilik klub secara hukum, tetapi memiliki ikatan sejarah dan emosional yang kuat.
Suporter adalah jantung klub. Tetapi jantung tidak mengambil alih pekerjaan otak.
Manajemen mengelola. Pelatih meracik strategi. Pemain bertanding. Suporter mendukung.
Sepakbola akan sehat jika semua menjalankan perannya.
Kritik boleh. Boikot boleh. Tapi jangan mendikte!