Budayantara Menjadikan Budaya sebagai Jembatan Diplomasi dan Kemanusiaan
PagipagiNews.com|JAKARTA — Budaya tidak berhenti sebagai warisan yang dijaga dari satu generasi ke generasi berikutnya. Di tengah hubungan antarbangsa yang semakin kompleks, budaya juga dapat menjadi bahasa universal untuk membuka dialog, menumbuhkan empati, dan memperkuat persahabatan.
Semangat itulah yang hendak dibawa Budayantara Media Digital Nusantara (BMDN) memasuki Milad ke-2. Diplomasi budaya dan kemanusiaan menjadi salah satu agenda yang ingin dikembangkan Budayantara melalui jejaring media, komunitas, seni, dan kebudayaan.
Langkah awal diwujudkan dengan membuka komunikasi dengan Kedutaan Besar Palestina di Indonesia. Upaya tersebut dilakukan Renee Partina sebagai bagian dari ikhtiar Budayantara memperluas jejaring diplomasi budaya sekaligus membawa perspektif kemanusiaan melalui pendekatan yang lebih inklusif.
“Ketika berbicara tentang solidaritas dan kemanusiaan, kita tidak bisa hanya melihatnya sebagai persoalan politik. Ada ruang yang sangat luas bagi budaya untuk menjadi kekuatan global yang mampu mempertemukan manusia, membangun empati dan memperkuat persahabatan,” ujar Renee saat ditemui awak media, Sabtu (12/9/2026).
Menurut Renee, seni, bahasa, tradisi, dan berbagai ekspresi kebudayaan memiliki kemampuan untuk melampaui batas geografis dan politik. Budaya, dalam konteks itu, dapat membuka ruang perjumpaan ketika komunikasi formal antarpihak menghadapi keterbatasan.
Atas dasar itu pula, Budayantara ingin mengembangkan medianya tidak sekadar sebagai ruang pemberitaan. Platform tersebut diharapkan dapat menjadi etalase kebudayaan Nusantara sekaligus jembatan komunikasi antarkebudayaan.
Komunikasi dengan Kedutaan Besar Palestina menjadi salah satu bagian dari langkah tersebut. Melalui budaya, Budayantara ingin ikut menyampaikan pesan solidaritas dan kemanusiaan dengan cara yang damai, terbuka, dan mengedepankan nilai-nilai persahabatan.
Dalam agenda tersebut, Founder Budayantara Media Digital Nusantara, Masdjo Arifin, turut hadir didampingi Yoyok Abidin dan Catur Widodo. Kehadiran mereka memperlihatkan keseriusan Budayantara untuk menjadikan diplomasi budaya dan kemanusiaan sebagai bagian dari arah pengembangan media ke depan.
Masdjo mengatakan, Budayantara ingin membangun ruang kolaborasi yang mempertemukan media, pelaku budaya dan seni, komunitas, serta berbagai elemen masyarakat.
“Budaya memiliki bahasa yang universal. Ketika budaya bertemu dengan nilai kemanusiaan, maka yang lahir bukan sekadar pertunjukan, tetapi sebuah pesan persahabatan dan perdamaian,” kata Masdjo.
Milad ke-2, karena itu, tidak hanya dimaknai sebagai penanda perjalanan sebuah media digital. Momentum tersebut juga menjadi kesempatan bagi Budayantara untuk memperluas peran dari sekadar menyampaikan informasi menuju upaya membangun hubungan antarmanusia melalui pendekatan budaya.
Dari Nusantara, Budayantara ingin membawa pesan bahwa budaya dapat menjadi jembatan, kemanusiaan menjadi bahasa, dan persahabatan menjadi jalan menuju perdamaian.
Semangat itu menjadi pijakan Budayantara untuk melangkah lebih jauh: dari pemberitaan menuju kolaborasi, dari kebudayaan menuju diplomasi, dan dari solidaritas menuju kemanusiaan.[]