Era AI, Kementerian Ekraf Tekankan Pentingnya Sentuhan Manusia dalam Karya Kreatif
PagipagiNews.com|JAKARTA, – Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Kemenekraf/Bekraf) mendorong pemanfaatan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) yang tetap menempatkan manusia sebagai pusat proses kreatif.
Direktur Kreativitas Teknologi Kementerian Ekraf Dandy Yudha Feryawan mengatakan, perkembangan AI tidak serta-merta menghilangkan peran manusia dalam menciptakan sebuah karya.
Hal itu disampaikan Dandy dalam panel IdeaFest 2026 bertajuk “Creator or Generator? When Everyone Can Make, What Comes Next?” yang digelar di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, Minggu (6/9/2026).
Menurut Dandy, perlu dibedakan antara karya yang dibuat dengan bantuan AI (AI-assisted) dan karya yang sepenuhnya dihasilkan oleh AI (AI-generated).
“Penggunaan AI sebagai alat bantu tidak otomatis membuat sebuah karya kehilangan orisinalitas. Sebaliknya, hal yang perlu diperhatikan adalah sejauh mana manusia memberikan kontribusi kreatif dan memiliki kendali atas hasil akhirnya,” ujar Dandy.
Ia menambahkan, AI memang dapat menghasilkan berbagai bentuk karya dengan cepat. Namun, manusia tetap memiliki peran penting dalam menentukan makna, karakter, serta nilai dari karya tersebut.
“AI bisa menghasilkan sesuatu, tetapi manusia yang menentukan apa yang paling berarti dari karya itu,” katanya.
Manusia Tetap Jadi Pusat
Dandy menjelaskan, pendekatan tersebut sejalan dengan prinsip human-centric dalam pengembangan dan pemanfaatan AI di 21 subsektor ekonomi kreatif.
Dalam konteks hak cipta, Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta mendefinisikan pencipta sebagai seorang atau beberapa orang yang secara sendiri-sendiri atau bersama-sama menghasilkan suatu ciptaan yang bersifat khas dan pribadi.
Karena itu, kontribusi kreatif manusia menjadi salah satu hal penting dalam menentukan karakter dan autentisitas sebuah karya.
Kontribusi tersebut dapat berupa ide, pilihan kreatif, ekspresi, perspektif, hingga keputusan akhir terhadap karya yang dihasilkan dengan bantuan teknologi AI.
Di sisi lain, perkembangan AI juga menghadirkan sejumlah tantangan. Beberapa di antaranya berkaitan dengan penggunaan karya sebagai data latih, kepemilikan hak cipta, serta traceability atau kemampuan melacak keterlibatan manusia dalam proses penciptaan.
Menurut Dandy, pemerintah bersama ekosistem ekonomi kreatif perlu mencari titik keseimbangan antara mendorong inovasi teknologi dan memberikan perlindungan serta kepastian bagi para kreator.
“Hal ini menjadi semakin penting ketika AI membuat proses produksi konten menjadi jauh lebih mudah serta cepat,” ujarnya.
Bukan Sekadar Menghasilkan
Dandy menilai, ketika kemampuan teknis untuk menghasilkan karya semakin mudah diakses, nilai manusia dalam proses kreatif justru semakin penting.
Nilai tersebut tercermin melalui ide, perspektif, pengalaman, selera, konteks, serta kemampuan melakukan kurasi terhadap hasil yang dibuat.
“Nilai manusia justru semakin terletak pada ide, perspektif, pengalaman, selera, konteks, dan kemampuan melakukan kurasi,” kata Dandy.
Panel diskusi yang diselenggarakan ECHO dan IdeaFest itu turut menghadirkan Adrian Martadinata sebagai moderator. Sementara pembicara lainnya yakni Danny Ardianto, Head of Government Affairs and Public Policy YouTube Asia Tenggara; Ganjar Ariel Sentosa, Chief Operating Officer Massive Music Entertainment; Ucha Ramadhan, Produser Podcast Ancur; serta Riashada Firdausya, Co-Founder HEI ECHO GROUP.
Para pembicara membahas perkembangan AI dan dampaknya terhadap industri kreatif, termasuk peluang pemanfaatan teknologi tersebut untuk memperkuat proses kreatif tanpa menghilangkan pengalaman, karakter, dan kontribusi manusia.
Bagi Kementerian Ekraf, arah yang perlu dibangun bukan sekadar generating with AI, melainkan creating with AI.
Dalam pendekatan tersebut, AI ditempatkan sebagai alat untuk memperluas kemampuan manusia dalam bereksperimen dan berkarya. Sementara manusia tetap menjadi pusat dalam menentukan ide, makna, nilai, dan arah sebuah karya kreatif.