Kamila Andini Bawa “Empat Musim Pertiwi” ke Panggung Dunia, Siap Tayang di Toronto hingga Busan
PagipagiNews.com|JAKARTA — Sutradara Kamila Andini kembali membawa karya terbarunya ke panggung sinema internasional. Film “Empat Musim Pertiwi”, produksi Forka Films, akan menjalani world premiere di Toronto International Film Festival (TIFF) 2026 pada September ini, sebelum menyapa penonton Indonesia dan tampil di Busan International Film Festival (BIFF) 2026.
Film yang memiliki judul internasional “Four Seasons in Java” tersebut mengikuti perjalanan Pertiwi, diperankan Putri Marino, seorang perempuan yang pulang ke tanah kelahirannya setelah puluhan tahun meninggalkan tempat tersebut.
Kepulangan itu bukan sekadar perjalanan menuju sebuah tempat. Pertiwi kembali berhadapan dengan orang-orang dari masa lalunya mereka yang pernah menjadi bagian dari musim terbaik sekaligus musim terburuk dalam hidupnya.
Trailer dan poster yang baru dirilis Forka Films memperlihatkan skala produksi terbesar rumah produksi tersebut. Lanskap Bromo menjadi salah satu elemen penting dalam membangun dunia film yang menawarkan pengalaman visual berbeda di layar lebar.
Produser Ifa Isfansyah mengatakan, film tersebut akan hadir di bioskop Indonesia berdekatan dengan perjalanan internasionalnya.
“Senang rasanya film Empat Musim Pertiwi dapat tayang di bioskop Indonesia dalam waktu yang berdekatan ketika filmnya World Premiere di Toronto dan dalam waktu yang bersamaan dengan tayangnya di Busan,” ujar Ifa.
Di Indonesia, “Empat Musim Pertiwi” dijadwalkan tayang mulai 8 Oktober 2026. Sementara di BIFF, film tersebut masuk program A Window On Asian Cinema, yang menampilkan karya sineas Asia dengan kiprah kuat maupun pendatang baru dalam peta sinema internasional.
Bagi Kamila, film ini menjadi ruang eksplorasi baru. Ia menggunakan pendekatan cross-genre untuk menyampaikan keresahan sekaligus gagasan yang ingin dibawanya. Salah satu unsur yang relatif baru dalam filmografinya adalah fiksi ilmiah atau sci-fi.
“Setiap cerita memiliki kebutuhannya sendiri, dan bagi saya ini juga akan menjadi salah satu cara terbaik untuk menyampaikan apa yang menjadi perjalanan Pertiwi dan orang-orang di sekitarnya,” kata Kamila.
Menariknya, gagasan “Empat Musim Pertiwi” sebenarnya telah muncul sejak 2017, jauh sebelum Kamila menggarap “Gadis Kretek” maupun “Before, Now & Then”. Putri Marino bahkan sejak awal telah diproyeksikan untuk memerankan Pertiwi.
Film ini sekaligus mempertemukan kembali tim “Gadis Kretek”, yakni Kamila Andini, Ifa Isfansyah, dan Putri Marino, bersama Arya Saloka.
Bagi Putri, karakter Pertiwi bukan peran yang mudah. Ia menggambarkan sosok tersebut sebagai perempuan yang telah mengalami berbagai luka dan fase kehidupan hingga terasa “mati” secara emosional.
Dalam proses pendalaman karakter, Kamila memberikan sejumlah bahan bacaan kepada Putri, salah satunya novel “Perempuan di Titik Nol” karya Nawal el-Saadawi.
“Di sini, aku diminta untuk menjadi seseorang yang seperti sudah mati di dalamnya, dingin,” ujar Putri.

Selain Putri dan Arya Saloka, film ini dibintangi sejumlah aktor lintas generasi, antara lain Christine Hakim, Hana Malasan, Shofia Shireen, Nagra Pakusadewo, Dwika Pradnyana, Maryam Supraba, Hanna Aretha, dan Totos Rasiti.
Kehadiran Dwika, aktor dengan vitiligo, serta Hanna Aretha, aktor tuli, turut menghadirkan representasi keberagaman dalam film tersebut.
Dari sisi produksi, “Empat Musim Pertiwi” menjadi proyek terbesar Forka Films. Proses syuting berlangsung pada 2025 dan sebagian besar dilakukan di kawasan Bromo, mulai dari permukiman, persawahan hingga kawasan berpasir.
Skala produksi juga diperkuat melalui kerja sama internasional. Film ini merupakan ko-produksi enam negara, yakni Indonesia, Prancis, Belanda, Norwegia, Arab Saudi, dan Polandia.
Forka Films juga menggandeng sejumlah mitra Indonesia, di antaranya Miles Films, Jagartha, Trinity Optima, Imajinari, Team Up, Julie Estelle, dan Navvaros. Film tersebut turut mendapat dukungan Oriflame.
Langkah internasional “Empat Musim Pertiwi” semakin kuat setelah film ini resmi mendapatkan representasi dari Goodfellas, perusahaan international sales asal Prancis yang dikenal menangani film-film auteur dengan perjalanan kuat di festival internasional.
Keterlibatan Goodfellas menjadi bagian penting dalam membuka perjalanan film ini ke pasar global. Film “Empat Musim Pertiwi” kini berada dalam katalog yang sebelumnya juga mencakup sejumlah film dengan reputasi festival dunia, seperti “Pan’s Labyrinth”, “The Artist”, “Shoplifters”, dan “Titane”.
Dengan perjalanan dari Bromo menuju Toronto dan Busan, “Empat Musim Pertiwi” membawa kisah personal tentang kepulangan ke panggung sinema dunia.
Setelah menjelajah festival internasional, Pertiwi akhirnya akan pulang ke rumahnya sendiri bioskop Indonesia.