Liga Soeratin U15 Piala Gubernur 2026: Batavia FC Tahan Maesa Para Raiders, UMS Menang Tipis atas Real Jakarta
PagipagiNews.com|JAKARTA — Kompetisi Liga Soeratin U15 Piala Gubernur 2026 memasuki pekan ketujuh. Dua pertandingan kembali digelar di Lapangan PSF Pancoran, Jakarta Selatan, Sabtu (5/9/2026), mempertemukan tim-tim muda yang terus berjuang mengasah kemampuan sekaligus mengejar poin dalam kompetisi berbasis liga.
Pada pertandingan pertama, Batavia FC bermain imbang 2-2 melawan Maesa Para Raiders di Lapangan 2 sintetis. Laga berlangsung dalam format 2×30 menit dan dimulai pukul 10.10 WIB.
Pertandingan dipimpin wasit Dian Jalani, dibantu asisten wasit Denny dan Iswadi.
Batavia FC tampil dengan manajer Ibnu Grahan, head coach Ranu Tri Sasongko, asisten coach Muksin Alatas, serta pelatih kiper M. Jaenudin.
Pertandingan berlangsung ketat. Maesa Para Raiders lebih dulu mencetak gol melalui Floren Ibrani Marcelino (23) pada menit ke-13.
Batavia FC kemudian merespons melalui M. Rhaka Sumarna (9) pada menit ke-30. Memasuki babak kedua, Gefran Narapati Nugroho (12) membawa Batavia FC berbalik unggul lewat gol pada menit ke-34.
Namun, keunggulan itu tidak bertahan hingga akhir. Maesa Para Raiders menyamakan kedudukan melalui Gazendra Abirama Putra (12) pada menit ke-56.
Skor 2-2 bertahan hingga pertandingan berakhir.
Talent scouting Berti Tituarima menilai Maesa Para Raiders sebenarnya tampil lebih dominan pada awal pertandingan. Namun, ia melihat ada kecenderungan Maesa meremehkan permainan Batavia FC.
Menurut Berti, kondisi itu berubah setelah Batavia FC mampu bangkit dan meningkatkan motivasi permainan.
“Pertandingan pertama antara Maesa dan Batavia, Maesa lebih dominan. Cuma mereka mungkin menganggap remeh tim Batavia,” ujar Berti.
Memasuki babak kedua, kata dia, situasi pertandingan berubah. Batavia FC justru tampil lebih berani melakukan serangan dan memberikan tekanan kepada Maesa.
“Sekarang pertandingan lebih banyak diserang Batavia karena motivasi. Mereka semangat untuk bisa memenangkan pertandingan ini,” katanya.
UMS Menang Tipis atas Real Jakarta
Pertandingan berikutnya mempertemukan UMS FC dan Real Jakarta. Laga dimulai pukul 12.10 WIB di Lapangan 2 sintetis dengan durasi 2×30 menit.
UMS FC diperkuat jajaran tim yang terdiri atas manajer Habibi, head coach Joko Kuspito, asisten Chepy, pelatih kiper Santos, serta Abu sebagai kitman.
Sementara Real Jakarta ditangani R. Darius SP sebagai pelatih, Wahyu Hidayat sebagai asisten pelatih, dan Pras sebagai pelatih kiper.
Pertandingan dipimpin wasit Agus dengan asisten wasit Suryadi dan Deni.
UMS FC akhirnya mengamankan kemenangan tipis 1-0 melalui gol M. Arif Bilah (2) pada menit ke-40.
Dalam pertandingan tersebut, pemain Real Jakarta Kelvin Novadesra (16) mendapat kartu kuning dari wasit Agus pada menit ke-28.
Pelatih UMS, Habibi, mengakui timnya tampil dengan sejumlah keterbatasan. Lima pemain utama UMS berhalangan hadir karena berbagai kepentingan, mulai dari kewajiban mengikuti tes di sekolah hingga cedera dan kegiatan lainnya.
“Lima pemain utama kami berhalangan. Ada yang pengambilan wajib tes di sekolah, ada yang cedera, kemudian ada yang ikut di toko,” ujar Habibi.
Kondisi tersebut membuat dirinya harus menyusun komposisi pemain yang tersedia.
Meski demikian, Habibi mengapresiasi semangat juang anak asuhnya. Ia menilai masih banyak aspek yang harus diperbaiki, terutama kondisi fisik, pemahaman taktikal, organisasi permainan per unit, hingga suplai bola.
“Fitness-nya masih jauh. Pemahaman taktikal juga harus kami perbaiki. Organisasi bermain per unitnya, kemudian supply-nya juga harus diperbaiki. Banyak aspek yang harus kami perbaiki,” katanya.
Habibi menegaskan, evaluasi akan menjadi modal penting menghadapi putaran kedua. UMS juga mulai memproyeksikan para pemainnya untuk jenjang Liga Soeratin U17.
“Saya sudah komunikasi dengan anak-anak. Kami komit di putaran kedua nanti harus lebih bagus karena proyeksinya anak-anak ini nanti untuk Soeratin U17,” ujarnya.
Berti: Kompetisi Usia Muda adalah Fondasi Sepak Bola Nasional
Talent scouting Berti Tituarima menilai keberadaan Liga Soeratin U15 Piala Gubernur 2026 memiliki arti penting bagi masa depan sepak bola Indonesia.
Menurutnya, perhatian publik selama ini terlalu sering tertuju pada kompetisi level atas seperti Liga 1 dan Liga 2. Padahal, pemain yang kelak menghuni kompetisi profesional maupun tim nasional harus melalui proses panjang sejak usia muda.
“Orang sering kali melihat sepak bola di level top, Liga 1, Liga 2. Mereka lupa bahwa yang bermain di atas itu berangkatnya dari grassroot semacam ini,” kata Berti.
Ia mengapresiasi penyelenggaraan kompetisi yang dinilainya berjalan rapi, baik dari sisi peserta maupun perangkat pertandingan. Menurut dia, pertandingan usia muda tidak semata-mata menjadi arena mengejar kemenangan, tetapi juga ruang pendidikan bagi pemain untuk memahami aturan permainan dan membangun mental bertanding.
Berti juga menyoroti pentingnya sinergi antara pemain, pelatih, orang tua, dan penyelenggara. Menurut dia, komunikasi antarpihak diperlukan agar pembinaan anak memiliki arah yang jelas.
“Ini anak-anak kita mau dibawa ke mana. Kita membuat topik yang benar. Intinya kita akan membantu anak itu berkembang dengan kompetisi berbasis liga,” ujarnya.
Format kompetisi liga, lanjut Berti, memberikan kesempatan kepada pemain untuk mendapatkan lebih banyak pengalaman pertandingan. Hal itu penting karena perkembangan pemain tidak cukup hanya mengandalkan latihan.
“Tidak cukup hanya sekadar latihan. Kompetisi memberikan kesempatan pemain belajar,” katanya.
Berti juga memberikan perhatian khusus terhadap pembinaan penjaga gawang. Menurutnya, seorang kiper tidak hanya membutuhkan postur, tetapi juga harus dibarengi pemahaman teknik dan taktik yang baik.
Ia berharap dari kompetisi seperti Liga Soeratin U15 akan muncul penjaga gawang potensial yang kelak mampu menjadi bagian dari sepak bola Indonesia.
Jangan Hanya Terpusat di Jakarta
Selain kualitas kompetisi, Berti menilai pembinaan sepak bola Indonesia perlu dilakukan secara lebih merata karena Indonesia merupakan negara kepulauan.
Ia mendorong agar sentra-sentra pembinaan sepak bola tidak hanya terkonsentrasi di Jakarta atau kota-kota besar.
Menurutnya, pemain dari daerah, termasuk wilayah yang jauh dari pusat sepak bola nasional, seharusnya memiliki kesempatan untuk berkembang tanpa harus selalu meninggalkan daerah asal sejak usia muda.
“Indonesia adalah negara kepulauan. Pemain dari Papua, misalnya, untuk tumbuh berkembang mereka harus terbang ke Jakarta. Banyak pengorbanan, termasuk sekolah dan keluarga,” katanya.
Karena itu, Berti mengusulkan adanya desentralisasi pembinaan dengan membangun sentra-sentra sepak bola di berbagai daerah.
“Sentra-sentra itu bisa menemukan pemain-pemain hebat dan mereka bisa tumbuh berkembang di daerahnya. Ketika tim nasional membutuhkan, tinggal mengambil database dari sentra-sentra tersebut,” ujarnya.
Bagi Berti, masa depan sepak bola Indonesia tidak boleh hanya diukur dari lapangan berukuran 105 atau 110 meter. Sepak bola juga harus menjadi sarana membangun karakter, disiplin, mental, dan masa depan anak-anak.
Sebab, tidak semua pemain usia 15 tahun akan menjadi pemain tim nasional. Namun, proses yang mereka jalani melalui sepak bola tetap dapat membentuk mereka menjadi pribadi yang lebih disiplin dan tertata.
“Jangan pernah bosan, jangan pernah menyerah, jangan pernah merasa cukup. Ekspektasinya harus lebih tinggi. Kita harus maju,” tegasnya.|Foto : Prass