Danni Irawan: Jangan Biarkan Talenta Muda Hanya Jadi Penonton Masa Depan Sepak Bola
PagipagiNews.co.|JAKARTA — Sepak bola usia muda tidak boleh berhenti sebagai ajang pertandingan dan perebutan trofi. Bagi Danni Irawan, mantan Ketua Asprov PSSI Sulawesi Selatan yang pernah menjadi salah satu pimpinan PLN Pusat hingga 2021, kompetisi seperti Liga Soeratin U-15 harus menjadi tempat menempa mental, karakter, sekaligus membuka jalan menuju masa depan pemain.
Danni Irawan melihat pembinaan pemain muda membutuhkan perhatian yang lebih serius. Ia bahkan mengingatkan bahwa bakat tanpa wadah, latihan tanpa kesinambungan, dan kompetisi tanpa pembinaan yang jelas hanya akan membuat potensi anak-anak muda berhenti di tengah jalan.
“Jangan pernah bosan, jangan pernah menyerah. Jangan pernah merasa tidak bisa. Semua harus dicoba,” tegas Danni saat menyaksikan Liga Soeratin U15 Piala Gubernur 2026 di Lapangan PSF Pancoran Jakarta Selatan,Sabtu(5/9)
Sebagai pecinta sepak bola, Danni selama ini juga dikenal memberikan perhatian kepada para mantan pemain nasional. Ia kerap menjadi penasihat dan memberikan donasi kepada sejumlah mantan pemain.
Menurut dia, para legenda sepak bola Indonesia tidak boleh hanya dikenang ketika masih berada di lapangan. Pengalaman mereka harus tetap diberi ruang agar bisa diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Kalau tidak ada wadahnya, percuma juga para legenda. Media juga harus memberikan wadah kepada mereka agar mereka bisa lebih berprestasi,” ujarnya.
Kini, kepedulian tersebut ia lanjutkan melalui perannya sebagai pembina peserta Liga Soeratin U-15. Ia melihat kompetisi usia muda sebagai salah satu bagian penting dalam membangun fondasi sepak bola nasional.
Danni menilai perkembangan sepak bola di Jakarta dan Jawa Barat saat ini cukup maju. Kondisi tersebut, menurut dia, harus dijaga dan sekaligus menjadi pemicu bagi daerah lain untuk membangun pembinaan secara lebih serius.
Namun, ia mengingatkan, ukuran keberhasilan pembinaan tidak boleh semata-mata dilihat dari berapa banyak pemain yang akhirnya menjadi profesional.
Sepak bola, menurut Danni, juga harus menjadi sekolah kehidupan.
Lapangan bukan hanya tempat anak-anak mengejar kemenangan. Di sana mereka belajar disiplin, menghadapi kekalahan, bekerja sama, menerima tekanan, dan yang paling penting, belajar untuk tidak mudah menyerah.
“Sepak bola itu membentuk mental yang kuat. Anak-anak ini harus menjadi anak-anak yang kuat dan tidak mudah menyerah,” katanya.
Karena itu, Danni menyoroti pentingnya kesinambungan latihan. Menurutnya, pembinaan tidak cukup hanya dengan bertanding, kemudian berhenti ketika kompetisi selesai.
“Latihan hari ini, besok libur, sudah beda. Tidak cukup hanya sekadar bertanding. Harus ada latihan dan bagaimana terapi individualnya,” ujarnya.
Ia berharap setiap pemain mendapatkan perhatian sesuai dengan kebutuhan dan perkembangannya. Pembinaan individual menjadi penting agar potensi yang dimiliki seorang pemain tidak hilang hanya karena kurang mendapatkan pendampingan.
Pada akhirnya, Danni ingin melihat Liga Soeratin U-15 menjadi bagian dari ekosistem yang mampu melahirkan pemain berkualitas sekaligus manusia yang tangguh.
Sebab, tidak semua anak yang turun ke lapangan hari ini akan menjadi pemain tim nasional. Tetapi setiap anak yang ditempa dengan proses yang benar bisa membawa mental pantang menyerah itu ke dalam kehidupannya.
“Jangan hanya berpikir soal menjadi pemain. Bagaimana sepak bola ini bisa membentuk kehidupan mereka agar lebih baik dan lebih sejahtera,” kata Danni.
Pesan Danni sederhana, tetapi tajam: jangan biarkan anak-anak muda hanya menjadi peserta kompetisi. Beri mereka latihan, wadah, pendampingan, dan kesempatan untuk berkembang. Dari sanalah masa depan sepak bola Indonesia dibangun.