Lagu-Lagu 2D Kembali Bernyawa, Malam Penuh Haru untuk Deddy Dhukun dan Dian Pramana Poetra
PagipagiNews.com|JAKARTA — Malam itu, lagu-lagu lama seolah menemukan tubuh baru. Di deConcert Room, Deheng House, Kemang, Jakarta Selatan, karya-karya Deddy Dhukun dan mendiang Dian Pramana Poetra kembali mengalun, bukan sekadar sebagai deretan tembang nostalgia, melainkan sebagai jembatan yang mempertemukan kenangan, kehilangan, dan generasi baru.
“Konser Tribute To 2D” yang digelar Deheng House bekerja sama dengan Bookcabin dan DMC sukses membawa ratusan pecinta musik Indonesia menyusuri kembali perjalanan panjang duo 2D. Lebih dari sekadar konser, malam itu menjadi ruang penghormatan bagi dua musisi yang karya-karyanya telah menjadi bagian dari perjalanan musik pop Indonesia.
Dimulai pukul 20.00 WIB dan dipandu Ade Andrini, konser dibuka oleh Pesona Tiga Suara, kelompok yang memiliki ikatan emosional tersendiri dengan perjalanan 2D. Anak-anak dari Deddy Dhukun dan Dian Pramana Poetra itu tampil penuh energi membawakan sejumlah lagu legendaris, antara lain “Jatuh Hatiku”, “Esok Kan Masih Ada”, “Sepanjang Jalan Tol”, dan “Bohong”.
Di tangan generasi penerus, lagu-lagu tersebut terdengar seperti kisah lama yang diceritakan kembali dengan bahasa baru. Ada semangat yang diwariskan, ada pula kenangan yang dijaga agar tidak hilang ditelan waktu.
Perjalanan musikal kemudian berlanjut bersama Shandy Sondoro. Dengan karakter vokalnya yang khas dan sentuhan blues yang kuat, ia menginterpretasikan “Semua Jadi Satu, Jakarta” serta “Aku Jadi Bingung” dengan cara yang berbeda. Lagu-lagu 2D pun menemukan ruang ekspresi baru tanpa kehilangan ruh aslinya.
Andien menyusul dengan warna vokalnya yang lembut dan jazzy. Melalui “Aku Ini Punya Siapa, O Ya” dan “Kau Seputih Melati”, ia membawa suasana menjadi lebih intim dan menawan.
Penampilan para penyanyi itu semakin lengkap dengan iringan Audiensi Band. Permainan yang solid dan pengalaman panjang para personelnya dalam mengiringi berbagai penyanyi papan atas Indonesia membuat setiap pergantian penampil terasa mulus, seolah konser tersebut memang dirancang sebagai satu perjalanan utuh.
Sebelum tiba pada puncak emosional malam itu, Wijaya 80 yang digawangi Ardhito Pramono, Erikson Jayanto, dan Hezky Joe mengambil alih panggung. Trio tersebut membawakan sejumlah karya 2D, seperti “Yang Terbaik untuk Kita”, “Melati di Atas Bukit”, “Melayang”, dan “Keraguan”.
Kehadiran musisi-musisi lintas generasi dengan karakter yang berbeda membuat repertoar 2D terasa semakin kaya. Lagu yang sama dapat terdengar berbeda ketika dibawakan oleh suara dan zaman yang berbeda. Namun, satu hal tetap sama: kekuatan melodi dan lirik yang membuat karya-karya itu terus menemukan pendengarnya.
Deddy Dhukun dan Panggung yang Menyimpan Kehilangan
Puncak konser tiba ketika Deddy Dhukun naik ke panggung. Ada elegansi, tetapi juga kesedihan yang sulit disembunyikan. Di panggung yang seharusnya menjadi ruang bagi dua sahabat dan partner bermusik, kini ia berdiri tanpa Dian Pramana Poetra.
Dian telah berpulang, tetapi malam itu, namanya terasa hadir di antara setiap nada yang dimainkan.
Deddy membawakan sejumlah lagu indah, mulai dari “Puji Syukur”, “Biru”, “Masih Ada”, “Sebelum Aku Pergi”, “Kusadari”, hingga “Jalan Masih Panjang”. Lewat lagu-lagu itu, penonton seolah diajak menelusuri perjalanan panjang 2D tentang cinta, waktu, kehilangan, harapan, dan keberanian untuk tetap melangkah.
Bagi Deddy, konser tersebut bukan sekadar penampilan. Ada jejak perjalanan hidup yang ikut dinyanyikan. Ada sahabat yang tak lagi berada di sisi panggung, tetapi tetap hidup dalam karya yang mereka ciptakan bersama.
Grand closing malam itu pun terasa menawan sekaligus mengharukan. Tepuk tangan penonton menjadi bentuk penghormatan bagi perjalanan dua musisi yang telah memberi warna tersendiri dalam sejarah musik Indonesia.

Menjaga Ruang bagi Musik Indonesia
Direktur Utama Deheng House, Amaliah Ananda Abadi, mengatakan pihaknya ingin menjadikan Deheng House sebagai ruang yang terbuka bagi musisi, kreator, dan seluruh insan kreatif untuk terus berkarya.
Menurut Amaliah, musik Indonesia bukan hanya soal hiburan, tetapi juga bagian dari perjalanan budaya dan identitas bangsa. Karena itu, dukungan terhadap ekosistem musik harus terus dibangun secara berkelanjutan.
“Kami ingin membangun ruang yang berkelanjutan. Sebuah tempat di mana musisi dari berbagai generasi dapat bertemu, berkolaborasi, bereksperimen, dan memperkenalkan karya mereka kepada audiens yang lebih luas,” ujarnya.
Ia menilai “Konser Tribute To 2D” menjadi salah satu bentuk nyata dari semangat tersebut: menghormati perjalanan para legenda sekaligus membuka jalan bagi generasi berikutnya untuk terus berkarya.
Deheng House pun berkomitmen menghadirkan program-program musik berkualitas dan mengambil bagian dalam pertumbuhan industri kreatif Indonesia.
Pada akhirnya, “Konser Tribute To 2D” membuktikan bahwa sebuah lagu tidak benar-benar menua selama masih ada orang yang menyanyikannya, mendengarkannya, dan menemukan dirinya di dalam liriknya.
Malam di Kemang itu menjadi bukti bahwa Deddy Dhukun dan Dian Pramana Poetra mungkin telah menempuh jalan yang berbeda kini, tetapi 2D tetap berjalan bersama dalam ingatan para pendengarnya.
Dan seperti salah satu pesan yang tersirat dari lagu-lagu mereka, jalan memang masih panjang. Namun, selama musik terus dimainkan, perjalanan itu tak akan pernah benar-benar berakhir.|Foto : Istimewa