Usia Boleh Bertambah, Panggung Tak Boleh Padam! Ozy Sahputera, Vivian Fu & Mardi Sihombing Buktikan Senior Tetap Bersinar
Pagipaginews.com|JAKARTA— Ada masa ketika panggung menjadi tempat seseorang mengejar popularitas. Namun, setelah puluhan tahun berlalu, panggung bisa berubah menjadi ruang untuk merawat ingatan sekaligus membuktikan bahwa semangat berkarya tidak mengenal usia.
Hal itu terasa ketika tiga seniman senior, Ozy Sahputera, Vivian Fu, dan Mardi Sihombing, hadir dalam perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia di kawasan Ancol, Jakarta. Mereka datang bukan semata-mata membawa nostalgia, melainkan energi untuk tetap menghibur dan menyapa penonton.
Bagi Ozy Sahputera, panggung kemerdekaan mengingatkan bahwa perjuangan tidak pernah benar-benar selesai. Jika dahulu kemerdekaan diperjuangkan dengan senjata, generasi sekarang menghadapi bentuk perjuangan yang berbeda dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, kemerdekaan, menurut Ozy, bukan alasan untuk berhenti berusaha. Justru kebebasan harus menjadi ruang bagi setiap orang untuk terus bekerja, berkarya, dan membuat kehidupan menjadi lebih baik.
Vivian Fu menghadirkan warna lain. Penyanyi senior yang dikenal lewat lagu-lagu Mandarin itu membawa musik berbahasa Mandarin ke dalam suasana perayaan kemerdekaan.
Baginya, perpaduan tersebut memang menghadirkan tantangan. Namun, di situlah letak keseruannya. Musik, menurut Vivian, dapat menjadi jembatan yang mempertemukan manusia dari latar belakang berbeda.
Busana putih yang dikenakannya pun memiliki makna tersendiri. Putih menjadi simbol rasa syukur atas perjalanan hidup sekaligus kesempatan untuk terus menjadi bagian dari masyarakat Indonesia.
Perjalanan Vivian di dunia musik pun tidak singkat. Ia telah menulis dan merekam puluhan lagu, baik ketika berkarier di Hong Kong maupun setelah berkarya di Indonesia. Kini, ia mulai melihat kembali karya-karya lama tersebut untuk diperkenalkan kepada publik.
“Intinya kita menghibur masyarakat,” ujar Vivian.
Sementara itu, Mardi Sihombing membawa kisah perjuangan yang tak kalah panjang. Penyanyi asal Medan itu pernah datang ke Jakarta dengan mimpi membangun karier dan melahirkan album. Jalan menuju impian tersebut ternyata penuh liku.
Waktu terus berjalan, tetapi Mardi tetap bertahan. Pengalaman puluhan tahun di dunia hiburan membuatnya memahami bahwa menjadi terkenal mungkin sulit, tetapi mempertahankan eksistensi jauh lebih menantang.
Ia menyebut ada tiga hal yang semestinya terus dijaga seorang penghibur: penampilan, etika, dan kesehatan.
Kemampuan bernyanyi, bagi Mardi, hanyalah salah satu modal. Seorang artis juga dituntut memperhatikan penampilan karena panggung merupakan ruang pertemuan dengan publik. Etika pun tidak kalah penting karena seniman hidup di tengah masyarakat dan bekerja dengan banyak orang.
Di atas semuanya, kesehatan menjadi modal yang tidak bisa ditawar. Bertambahnya usia membuat aktivitas di atas panggung membutuhkan perhatian lebih terhadap kondisi fisik.
Ancol sendiri bukan tempat yang asing bagi ketiganya. Bagi Vivian, kawasan tersebut menyimpan kenangan tentang perjalanan awal kariernya. Ia masih mengingat Ancol pada masa ketika wajah kawasan itu belum seperti sekarang.
Kini, bertahun-tahun kemudian, kenangan tersebut seperti menemukan jalannya untuk kembali. Vivian berdiri di atas panggung yang sama dalam suasana berbeda, tetapi dengan semangat yang tidak banyak berubah.
Dari sana, ketiganya membawa pesan yang sederhana: usia boleh bertambah, tetapi karya tidak harus berhenti.
Ozy memaknai kemerdekaan sebagai perjuangan yang terus berlangsung. Vivian memperlihatkan bahwa musik lintas bahasa dapat tumbuh dalam semangat kebangsaan. Mardi menunjukkan bahwa konsistensi menjadi salah satu kunci untuk bertahan dalam industri hiburan.
Mereka mungkin tidak lagi berada pada fase ketika popularitas menjadi satu-satunya ukuran. Tetapi justru pengalaman panjang itulah yang membuat kehadiran mereka terasa berbeda.
Dari panggung Ancol, ketiganya seperti ingin mengatakan bahwa menjadi senior bukan berarti harus menepi. Ada pengalaman yang masih bisa dibagikan, ada lagu yang masih bisa dinyanyikan, dan ada penonton yang masih ingin dihibur.
Pada akhirnya, kemerdekaan tidak hanya dirayakan lewat pesta dan pertunjukan. Ia juga hidup dalam semangat orang-orang yang memilih untuk terus melangkah—termasuk tiga seniman senior yang tetap setia pada panggung dan dunia yang telah menjadi bagian dari hidup mereka.